Gusdurian: Kelompok Pengagum Pikiran Gus Dur yang Tak Berpolitik

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wajah Yenny Wahid putri dari almarhum Abdurrahman Wahid terlihat di layar saat ribuan Jemaah NU serta Gusdurian menghadiri Haul Gus Dur ke-4 di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim, Jakarta (28/12). TEMPO/Nurdiansah

    Wajah Yenny Wahid putri dari almarhum Abdurrahman Wahid terlihat di layar saat ribuan Jemaah NU serta Gusdurian menghadiri Haul Gus Dur ke-4 di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim, Jakarta (28/12). TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid telah menentukan sikap politiknya untuk pemilihan presiden 2019. Putri mendiang Abdurahman Wahid atau Gus Dur ini mengumumkan mendukung pasangan presiden nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'aruf Amin.

    Baca: Yenny Wahid Labuhkan Dukungan ke Jokowi - Ma'ruf di Pilpres 2019

    Yenny menyampaikan dukungannya itu di rumah pergerakan Gus Dur di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu, 26 September 2018. "Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, dengan ini kami menyatakan mendukung pasangan nomor satu. Bismillah Presiden Jokowi akan kembali memimpin Indonesia," ujar Yenny saat itu.

    Dukungan Yenny diprediksi ini akan menarik massa besar. Yenny bersama keluarganya memilik basis massa Nahdlatul Ulama (NU) yang kuat. Tak cuma kelompok NU, kelompok Gusdurian juga termasuk.

    Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman alias Yenny Wahid berfoto dengan lukisan Jokowi seusai deklarasi dukungan pengikut Gus Dur kepada pasangan capres Jokowi dan Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu, 26 September 2018. Yenny Wahid juga menjelaskan, istri mendiang Gus Dur, Shinta Wahid, memilih netral. TEMPO/Amston Probel

    Politikus Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, yang berkoalisi dengan kubu Prabowo-Sandiaga, mengatakan dukungan Yenny amat diharapkan lantaran bakal memperkuat poros-poros dukungan Gusdurian di Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Namun kalau keputusan Mbak Yenny demikian ya kami hormati," kata Dasco kepada Tempo pada Rabu sore, 26 September 2018.

    Gusdurian memang diperhitungkan dalam kancah kontestasi pemilihan presiden. Namun, sesungguhnya jaringan komunitas dan individu pengagum pemikiran Gus Dur ini merupakan kelompok yang netral dan tidak mau terlibat politik praktis.

    Baca: Alasan Yenny Wahid Dukung Jokowi: Sederhana Tapi Kaya dalam Karya

    Melalui laman resminya, Gusdurian.net, Gusdurian mengunggah sejumlah artikel mengenai sikap mereka menjelang pilpres 2019. Sarjoko Wahid, penulis artikel itu, menegaskan bahwa Gusdurian tak akan menyeret gerakan kultural itu ke wilayah politik praktis.

    Kegusaran terhadap pandangan Gusdurian dalam menghadapi pilpres 2019 ini juga dijawab putri pertama Gus Dur sekaligus Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid. Melalui akun Twitternya, Alissa mencuitkan pernyataan resmi.

    "Jaringan @GUSDURians tetap istiqamah tidak berpolitik praktis. Orang-orangnya ya monggo menyalurkan hak politiknya sendiri. Tidak ada pengorganisasian via gusdurian," tulis Alissa.

    @GUSDURians menuliskan gamblang pada informasi profilnya bahwa mereka merupakan gerakan sosial. "BUKAN POLITIK PRAKTIS," Twitter.com

    Akun Twitter resmi Gusdurian, yakni @GUSDURians menuliskan gamblang pada informasi profilnya bahwa mereka merupakan gerakan sosial. "BUKAN POLITIK PRAKTIS," begitulah bunyi akun Twitter itu.

    Baca: Yenny Wahid Ungkap Kesamaan Jokowi dengan Gus Dur

    Gusdurian merupakan kelompok yang beranggotakan individu, komunitas, atau lembaga yang sama-sama memiliki pemikiran untuk meneruskan perjuangan Gus Dur. Fokus gerakan ini ialah pada isu-isu tertentu. Di antaranya ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, kearifan tradisi.

    Kelompok Gusdurian ini kerap menamakan diri sebagai murid Gus Dur. Sedangkan Gusdurian yang memiliki keinginan untuk berpolitik praktis diberikan ruang sendiri, yakni melalui Barisan Kader (Barikade). Barikade ini dinakhodai oleh Yenny Wahid.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.