Edy Rahmayadi Bantah Lakukan Penamparan di Stadion

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua PSSI Joko Driyono memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9/2018). ANTARA FOTO/Reno Esnir

    Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua PSSI Joko Driyono memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9/2018). ANTARA FOTO/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Sumatera Utara sekaligus Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Edy Rahmayadi membantah melakukan penamparan kepada suporter di sela-sela pertandingan PSMS melawan Persela Lamongan di Stadion Teladan Medan pada Jumat, 21 September 2018. Bantahan ini diungkapkan Edy menanggapi video penamparan yang viral di media sosial.

    Baca: Kasus Haringga Sirila: PSSI Bentuk Tim Verifikasi

    "Memang cocok saya nampar anak kecil? Lu percaya enggak?" ujar Edy Rahmayadi di Medan, Selasa, 25 September 2018.

    Edy merasa berada pada posisi yang serba salah. Jika dia membantah, banyak pihak yang tidak percaya. Sedangkan jika mengatakan telah melakukan penamparan, akan ada pula pihak yang mengatakan terlalu tega.

    Namun yang pasti, Edy membantah dirinya melakukan aksi tidak terpuji tersebut.
    "Itu pasti banyak yang melihat itu. Ya enggak ada-lah," tuturnya.

    Di tempat terpisah, Sekretaris PSMS Julius Raja ikut membantah peristiwa penamparan yang dilakukan Edy Rahmayadi. Julius mengatakan ada yang mengedit video yang akhirnya viral di media sosial tersebut. "Yang viral itu yang diedit. Kami lagi cari orang yang mengedit dan memviralkannya," kata Julius.

    Julius menjelaskan, yang sebenarnya terjadi saat itu adalah Edy mendatangi suporter dan menyuruh tidak menyalakan flare atau kembang api. Gerakan tangan Edy merupakan isyarat agar para suporter menepi dan menyaksikan laga dengan tertib.

    Baca: Alasan Ketua PSSI Tak Masalah Rangkap Jabatan Gubernur

    Musababnya, Edy khawatir, jika flare terus dinyalakan, PSMS yang pada akhirnya dirugikan. Karena penyalaan flare melanggar aturan penyelenggaraan Liga 1 dan akhirnya klub dapat dijatuhi sanksi.

    Bahkan, menurut Julius, Edy juga sempat memborong makanan yang dijual pedagang di lokasi kejadian. "Dia borong semua jualan di situ, lalu dikasihkan ke anak-anak. Jadi kami heran, kok, ada yang mengedit-edit video itu," ucap Julius.

    Pria yang akrab disapa King tersebut juga berharap para suporter yang mendukung langsung PSMS bertanding dapat bersikap dewasa. Khususnya tidak melakukan tindakan anarkistis dan menyalakan flare saat pertandingan berlangsung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.