Mundur dari Utusan Presiden, Din Syamsuddin Netral di Pilpres

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (tengah) menyampaikan sambutan disaksikan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kiri), dan Din Syamsuddin (kanan), pada acara buka puasa bersama pimpinan lembaga tinggi negara di Istana Negara, Jakarta, 18 Mei 2018. ANTARA/Wahyu Putro A

    Presiden Jokowi (tengah) menyampaikan sambutan disaksikan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kiri), dan Din Syamsuddin (kanan), pada acara buka puasa bersama pimpinan lembaga tinggi negara di Istana Negara, Jakarta, 18 Mei 2018. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin enggan menyatakan pilihan politiknya dalam Pilpres 2019 secara terbuka di publik. Dia tak ingin memicu perpecahan.

    Baca: Din Syamsuddin Mengundurkan Diri dari Posisi Utusan Presiden

    Din menuturkan, umat Islam saat ini terpecah karena berbeda pilihan politik. "Kalau saya berada di satu pihak, mereka tidak akan mau lagi. Jadi lebih bagus saya berada di posisi netral," kata dia di DPR, Jakarta, Jumat, 21 September 2018.

    Keputusan Din untuk netral ditunjukkan dengan menolak jabatan ketua tim sukses calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Menurut dia, utusan kubu inkumben sempat memintanya masuk dalam tim.

    Dia bahkan memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban. "Jabatan saya terlalu berkonotasi dekat sama seseorang (Jokowi)," katanya.

    Baca: Cerita Din Syamsuddin Ditawari Jadi Ketua Tim Kampanye Jokowi

    Meski begitu, Din menyatakan sikap netralnya tak berarti dia tak memihak siapapun. Dia tetap akan menggunakan hak pilih. Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak ikut golongan putih. "Ini tidak main-main, ini untuk kehidupan bangsa lima tahun ke depan," ujarnya.

    Din Syamsuddin menyatakan bersedia membocorkan pilihan politiknya jika ada yang bertanya diam-diam. Dia tak masalah berbagi pandangan soal pilihan presiden asalkan tidak dibocorkan ke publik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.