Senin, 19 November 2018

Sebagian Koleksi Museum Radya Pustaka Diduga Palsu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) menemukan adanya sejumlah koleksi di museum tersebut yang merupakan benda tiruan. Penemuan tersebut diketaui setelah Tim Inventarisasi bentukan Pemerintah Kota Solo menyelesaikan pendataan ulang koleksi museum. Koleksi tiruan atau dipalsukan itu sebagian besar adalah yang terbuat dari perunggu dan keramik. "Koleksi itu di luar 11 benda yang sudah dilaporkan ke polisi," kata Zaimull Azzah, Ketua Tim Inventarisasi Koleksi Museum Radya Pustaka, Selasa (4/12) Azzah menolak untuk menyebutkan temuan-temuan baru tersebut. Dia mengatakan pemeriksaan terhadap koleksi museum memang sudah diselesaikan Senin (3/12) kemarin namun untuk membuat kesimpulan masih harus dilakukan analisis dengan sub tim lain seperti tim arkeolog, etnografi, numismatik, sejarah, teknologi dan lain sebagainya. "Begitu selesai semuanya, kami akan melaporkan temuan-temuan itu ke Pemerintah Kota Solo yang menugasi kami dan melaporkan ke polisi untuk penemuan koleksi palsu," ujarnya. Pemalsuan koleksi museum menjadi modus baru pencurian benda bersejarah setelah terbongkarnya lima arca tiruan di Museum Radya Pustaka Solo. Lima arca kuno yang berasal dari masa Hindu Klasik diganti oleh Kepala Museum Radya Pustaka KRH Darmohadipuro dengan arca baru yang dipesan dari pemahat batu di Muntilan, Magelang. Darmodipuro kini menjadi tersangka dan ditahan bersama dua pegawainya serta seorang pedagang antik. Menurut Azzah, selain adanya dugaan sejumlah benda yang dipalsukan berada di museum, tim yang melakukan pendataan ulang sejak 10 hari lalu juga menemukan berbagai benda yang selama ini tidak tercatat. Benda-benda berupa guci, talam perunggu, entong, dan sebagainya ditemukan di bawah lebar arca museum. Ketua Pojka Perlindungan BP3 Jawa Tengah, Lambang Babar Purnomo, benda tersebut asli. "Masih didalami mengapa benda itu berada di bawah almari, apakah disembunyikan atau saat invetarisasi tahun 1992 terlewatkan," ujarnya. imron rosyid

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.