Sosok Budi Waseso, dari Penjara Buaya hingga Anti Impor Beras

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitaa harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Kepala Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitaa harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berpolemik soal impor beras. Dia mempersoalkan kebijakan Enggar yang mengimpor dua juta ton beras di tengah kondisi beras yang dianggap surplus.

    Baca: Dirut Bulog Akui Beras Operasi Pasar Tak Terserap Maksimal

    "Kita harus impor untuk apa, nalarnya kan begitu," ujarnya pada Selasa, 18 September 2018.

    Buwas dikenal sebagai sosok yang blak-blakan, juga kontroversial. Pada 2015 saat menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional, dia melontarkan ide penjara buaya pagi narapidana narkoba.

    Dia bahkan mengaku meneliti bagaimana cara memadukan buaya dan piranha dalam satu kandang, sebagai sipir penjara bagi bandar dan pengedar narkoba. Buwas ingin merealisasikan rencananya itu. "Tempat sudah ada, dan sedang kami bahas tentunya," kata Budi Waseso, Sabtu, 14 November 2015.

    Sebenarnya, selain piranha, Buwas juga melakukan penelitian terhadap ikan buas lain, seperti ikan arapaima dari Amazon. "Itu juga sudah kami lakukan penelitian. Mudah stres atau tidak, mana yang paling pas (dengan buaya)," kata Budi Waseso.

    Menurut Buwas, buaya dan piranha dipilih karena kedua binatang itu memiliki sejumlah kelebihan dibanding binatang buas lainnya. Buaya dianggap relatif murah, mudah dipelihara, tahan penyakit, dan lapar. Yang lebih penting binatang ini tidak kenal kompromi.

    Baca: Budi Waseso - Enggar Ribut Soal Impor Beras, Jokowi Akan Jelaskan

    "Kalau ada yang mau melarikan diri nanti diselesaikan dengan buaya. Biar nanti tersangkanya (bila ada tahanan terluka atau mati karena mencoba melarikan diri adalah buaya," kata Buwas.

    Ide piranha dan buaya sebagai sipir, kata Buwas, karena kedua hewan tersebut tidak bisa disuap, tidak seperti penjaga manusia.

    Buwas memastikan rencana membuat penjara berpenjaga binatang buas itu telah dikordinasikan kepada Menteri Hukum dan HAM. "Sudah, semua ini sudah jauh kami bicarakan sebelum ini kami munculkan (ke publik)," katanya. Ia mengeklaim telah mendapat restu dari menteri.  "Hanya kan ini tidak mudah, butuh proses pengkajian."

    Namun, hingga kini, ide Buwas soal penjara buaya itu tak pernah terealisasi.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.