Kasus Bakamla, Fayakhun Yakin Pernah Serahkan Uang ke Irvanto

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fayakhun Andriadi mengikuti sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis, 16 Agustus 2018. Fayakhun didakwa dalam tindak pidana korupsi kasus suap menerima hadiah atau janji dari proyek pengadaan <i>satellite monitoring</i> di Badan Keamanan Laut (Bakamla). TEMPO/Imam Sukamto

    Fayakhun Andriadi mengikuti sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis, 16 Agustus 2018. Fayakhun didakwa dalam tindak pidana korupsi kasus suap menerima hadiah atau janji dari proyek pengadaan satellite monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kasus suap proyek pengadaan satelit monitoring dan drone di Bakamla, Fayakhun Andriadi menyakini pernah memberikan duit sebesar 500 ribu dolar Singapura kepada keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Menurut dia, uang itu diserahkan oleh stafnya, Agus Gunawan.

    "Saudara Agus menyampaikan ke saya sudah menyerahkan kepada saksi, itu saya yakini kebenarannya. Saya meminta Agus menyerahkan ke saksi," kata Fayakhun dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu, 19 September 2018.

    Baca: Keponakan Setya Novanto Ubah Keterangan Soal Uang Suap Bakamla

    Irvanto dalam sidang yang sama membantah pernah menerima uang 500 ribu dolar Singapura dari Agus. Padahal, dalam BAP yang dibacakan jaksa, Irvanto mengaku pernah menerima uang tersebut dari Agus.

    Agus menyerahkan uang itu di showroom milik Irvanto di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Uang itu, merupakan sumbangan Fayakhun untuk kepentingan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar.

    Baca: Setya Novanto dan Keponakannya Bakal Bersaksi di Sidang Bakamla

    Namun, Irvanto mengatakan mencabut keterangannya tersebut. Ia mengaku hanya pernah melakukan transaksi dengan Agus terkait pembelian motor untuk Fayakhun. "Saya tidak pernah menerima uang 500 ribu dollar Singapura," kata dia.

    Dalam perkara ini, Fayakhun didakwa menerima suap sebanyak US$ 911.480 dalam proyek pengadaan satelit Bakamla. Dia didakwa menerima uang itu dari Direktur PT Merial Esa, selaku pihak yang menggarap proyek tersebut. Jaksa mendakwa Fayakhun menerima uang itu sebagai imbalan atas jasanya meloloskan alokasi penambahan anggaran Bakamla dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.