Hakim Singgung Kejujuran Setya Novanto di Sidang E-KTP

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto, duduk bersama dengan istrinya Deisti Astriani Tagor, dan dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018.  TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto, duduk bersama dengan istrinya Deisti Astriani Tagor, dan dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Hakim perkara dugaan korupsi e-KTP, Yanto, menyinggung kejujuran kesaksian mantan Ketua DPR Setya Novanto. Menurut Yanto, kesaksian Setya dalam sidang berubah setelah divonis bersalah dalam korupsi e-KTP.

    Baca: Setya Novanto Kembali Sebut Anggota DPR yang Terima Duit E-KTP

    "Jadi Pak Setnov ditanya berkali-kali katanya menghormati keputusan majelis, tapi pas pemeriksaan terdakwa tidak bercerita seperti ini. Karena dulu enggak cerita seperti ini, ya BAP yang dipakai yang sidang kemarin," kata dia saat sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 18 September 2018.

    Yanto mengatakan hal itu saat sidang e-KTP dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan Made Oka Masagung. Dia juga merupakan Ketua Majelis Hakim yang menghukum Setya 15 tahun penjara dan mewajibkan Setya membayar uang pengganti US$ 7,3 juta dalam kasus korupsi e-KTP.

    Singgungan dari Yanto bermula ketika bekas bos PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, yang juga menjadi terpidana kasus korupsi e-KTP, meminta majelis hakim mengabulkan permohonannya terkait hukuman uang pengganti. Dia meminta hakim mengizinkan dia membayar uang pengganti dari uang di rekening perusahaannya yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Baca: Istri Setya Novanto Datangi KPK Serahkan Aset Rp 13 Miliar

    Namun, Hakim Yanto mengatakan karena vonis untuk Anang sudah inkracht, maka Anang seharusnya mengirimkan surat permohonan ke jaksa penuntut umum KPK.

    Sesaat setelah Anang menyampaikan permohonannya, Setya ikut-ikutan meminta hakim memperhatikan permohonannya terkait hukuman uang pengganti. Setya dihukum membayar uang pengganti sebanyak US$ 7,3 juta. Namun, menurut dia dalam putusan hakim tak menjelaskan perhitungan kurs dolar yang dipakai.

    "Waktu putusan Yang Mulia itu tidak tertera dolar kurs berapa, saya juga minta izin ke tim KPK, minta dasar perhitungan dolar yang lama," kata dia.

    Mendengar permintaan Setya, Hakim Yanto justru menyinggung kejujuran Setya dalam persidangan. Menurut dia, saat masih menjadi terdakwa, Setya tidak mengaku menerima uang e-KTP. Namun, dalam sidang kali ini, Setya mengaku menerima uang itu, walau hanya sebagian. "Makanya di sini diharapkan yang jujur, buka saja. Untuk permohonan saudara langsung ke penuntut umum karena sudah inkracht," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.