Rabu, 14 November 2018

Diisukan Dukung Khilafah, Prabowo: Itu Propaganda Picik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden Prabowo Subianto melambaikan tangan setelah melakukan pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhono di Jakarta, Rabu, 12 September 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Calon presiden Prabowo Subianto melambaikan tangan setelah melakukan pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhono di Jakarta, Rabu, 12 September 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden Prabowo Subianto mengatakan kabar yang menyebut dirinya ingin mendirikan negara Islam dan mengganti sistem menjadi khilafah di Indonesia tidak berdasar.

    Baca juga: Tiba di Rumah Gus Dur, Prabowo Disambut Yenny Wahid

    “Jadi masalah khilafah itu adalah propaganda yang sebetulnya picik tapi berbahaya karena rakyat bisa terpengaruh,” katanya seusai kunjungan ke rumah almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis, 13 September 2018.

    Prabowo pun memaparkan secara singkat bagaimana ia sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia sering harus mempertaruhkan nyawa demi kedaulatan Pancasila. Ia mengatakan, sejak muda sudah bersumpah untuk membela Tanah Air yang didasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Ia menambahkan, keinginannya adalah menegakkan Pancasila secara murni dan konsekuen. “Jadi bukan Pancasila dan UUD 1945 dipakai sebagai mantra, tapi dijalankan,” ujarnya.

    Prabowo menegaskan merasa nyaman dengan Gus Dur, yang membawa budaya Nahdlatul Ulama dengan pandangan Islamnya yang moderat. Ia mengaku nyaman dengan Islam yang kuat berdiri di atas tradisi Indonesia yang damai serta menghormati semua agama, ras, suku, dan budaya.

    Baca juga: Yenny Wahid Bakal Gelar Silaturahmi Nasional Kader Gus Dur

    Putri kedua Gus Dur, Zanubba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau sering disapa Yenny Wahid, setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, Prabowo merupakan pemimpin yang memiliki visi luas serta menjunjung tinggi demokrasi meskipun berlatar belakang militer.

    “Tadi dijelaskan komitmen yang diberikan beliau adalah untuk tetap mempertahankan Islam moderat dan sumpah untuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) Pancasila,” ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?