Kamis, 20 September 2018

3 Kerugian Jika Bos Media Merapat ke Salah Satu Kubu di Pilpres

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi televisi. TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi televisi. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemilik bisnis media konvensional yang merapatkan dukungannya ke salah satu kubu calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019 harus berhati-hati. Direktur Eksekutif Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo mengatakan hal ini bisa sangat mengganggu kestabilan bisnis mereka.

    Baca juga: Demokrat Tak Khawatir Erick Thohir Ketua Tim Sukses Jokowi

    "Kalau mau, jujur media yang mendapat keuntungan finansial besar saat Pemilu 2014 lalu itu justru media yang netral," kata Agus saat ditemui seusai diskusi Polemik Tagar di Tjikini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu, 12 September 2018.

    Menurut Agus, setidaknya ada sejumlah kerugian yang bakal ditanggung bila media merapat ke salah satu kubu. Berikut ini tiga di antaranya.

    1. Ditinggalkan Pengiklan
    Agus mengatakan bisnis media sangat bergantung pada iklan. Sedangkan para pengiklan besar itu sangat berhati-hati dengan isu kampanye. Rata-rata pengiklan akan enggan memasang iklannya bila media tidak netral dan merapat ke salah satu kubu politik.

    "Media yang bagus itu adalah media yang hidup bukan dari iklan politik," ujar Agus. Meski menguntungkan dari iklan kampanye, hal itu hanya akan terjadi sesaat. Sementara itu, keberlanjutan bisnisnya justru terancam dengan pengiklan yang emoh menanam investasinya.

    2. Kalah dengan Media Sosial
    Media sosial selama ini menjadi tantangan bagi media-media konvensional. Masyarakat yang jengah dengan sajian yang dipaparkan di media konvensional akan beralih ke media sosial.

    Hal itu disinyalir sangat mungkin terjadi saat masa kampanye. Bila media konvensional menaikkan intensitasnya untuk mendukung salah satu kubu, masyarakat bakal jengah. Mereka akan memilih membuka media sosial. Lagi pula, konten yang disajikan di media sosial variatif.

    "Sekarang televisi kan bukan jadi episentrum tunggal karena ada media sosial. Jadi masyarakat akan selalu membandingkan apa yang ada di media televisi, apa yang muncul di koran, media sosial," ujar Agus.

    3. Kepercayaan Publik Luntur
    Kejengahan masyarakat terhadap kampanye jor-joran yang mungkin terjadi pada media pendukung salah satu kubu bukan hanya mengalihkan perhatian masyarakat. Hal itu juga akan menghilangkan kepercayaan publik terhadap media konvensional.

    Baca juga: Pengamat: Didukung Bos Media, Jokowi - Ma'ruf Belum Tentu Menang

    Adapun publik juga akan melempar tuduhan keberpihakan pada media itu dan memunculkan stigma negatif. "Penonton itu kan jamak. Kalau belajar dari pilpres lalu, media yang netral akan mendapat keuntungan simbolis dan ekonomi. Dia tidak bakal dituduh berpihak," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.