Sabtu, 22 September 2018

Golkar: Eni Saragih Belum Laporkan Penggunaan Dana Munaslub

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah) bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo (kanan) menyampaikan keterangan pers setelah memantau hasil hitung cepat (<i>quick count</i>) pilkada serentak di 171 daerah di gedung DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. Partai Golkar mengklaim target perolehan suara 56 persen dalam pilkada serentak 2018 telah tercapai. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah) bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo (kanan) menyampaikan keterangan pers setelah memantau hasil hitung cepat (quick count) pilkada serentak di 171 daerah di gedung DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. Partai Golkar mengklaim target perolehan suara 56 persen dalam pilkada serentak 2018 telah tercapai. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini Ace Hasan Shadzily membantah bahwa partainya mengetahui aliran dana PLTU Riau-1, yang diduga diterima oleh kader Golkar, Eni Saragih. Duit suap tersebut diakui Eni untuk membiayai Munaslub Golkar pada Desember 2017.

    Baca: Golkar Kembalikan Uang ke KPK, Eni Saragih: Itu Duit Munaslub

    Menurut keterangan Ace, Eni yang saat itu menjabat sebagai bendahara Munaslub, sampai saat ini belum pernah menyampaikan laporan pertanggungjawaban ihwal penggunaan dana Munaslub tersebut kepada partai. "Sebagai bendahara, beliau belum pernah menyampaikan laporan. Makanya kalau terjadi seperti ini, itu di luar kewenangan kami," ujar Ace kepada Tempo di bilangan Senayan, Jakarta pada Senin, 10 September 2018.

    Ace mengatakan, jika penggunaan dana tersebut dilaporkan kepada partai, maka partai bisa mengecek sumber dana dan siapa saja donatur yang menyumbang. "Apalagi kalau dana itu diduga dari suap PLTU, pasti akan ditolak oleh partai," ujar Ace.

    Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Saragih setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Sabtu malam, 14 Juli 2018. Eni ditangkap KPK di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham, Jumat sore, 13 Juli 2018. TEMPO/Fakhri Hermansyah.

    Ace menyebut, Ketua Panitia Penyelenggara (OC) Munaslub Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita pun tidak memiliki kaitan dengan Eni dalam hal pendanaan. "Pak Agus punya wakil bendahara sendiri terkait OC. Laporan itulah yang sekarang sudah dilaporkan kepada ketum. Dan panitia yang mengurusi OC, tidak dapat (uang) sama sekali dari Eni," ujar Ace.

    Baca: Permintaan Setya Novanto ke Eni Saragih Terkait Suap PLTU Riau-1

    Dua kader Golkar diduga terlibat dalam kasus suap PLTU Riau-1. Mereka adalah mantan Menteri Sosial Idrus Marham dan mantan Wakil Ketua Komisi Energi DPR Eni Saragih. Eni Saragih diduga menerima hadiah atau janji dari tersangka lainnya, Johannes B. Kotjo, pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan konsorsium yang akan mengerjakan proyek PLTU Riau-1.

    KPK menduga Eni menerima suap total Rp 4,8 miliar dari Johannes untuk memuluskan proses penandatanganan pembangkit listrik di Riau itu. Sedangkan Idrus Marham diduga menggunakan pengaruhnya dalam proses proyek tersebut. Pemberian uang disinyalir untuk mempermudah penandatanganan kontrak kerja sama yang akan berlangsung setelah Blackgold menerima letter of intent (LOI) pada Januari lalu.

    Baca: Golkar: Kasus Proyek PLTU Riau-1 Urusan Idrus - Eni Saragih

    Dalam beberapa kesempatan, Eni Saragih mengatakan ada uang dari suap PLTU Riau-1 mengalir ke Munaslub Golkar pada akhir 2017. Eni yang juga bendahara Munaslub, tidak mau merincin penggunaan uang tersebut. Namun, tersangka suap PLTU Riau-1 ini memastikan uang tersebut berasal dari Kotjo. Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto berkali-kali membantah ada uang suap mengalir ke Munaslub Golkar, begitu pun dengan Agus Gumiwang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.