Kamis, 20 September 2018

Tolak #2019GantiPresiden, Massa Bakar Ban di Kantor PKS Sumut

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekelompok massa mendemo kantor DPW PKS Sumut, Senin 10 September 2018. TEMPO/Sahat simatupang

    Sekelompok massa mendemo kantor DPW PKS Sumut, Senin 10 September 2018. TEMPO/Sahat simatupang

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekelompok orang yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Sumut Selamatkan NKRI berunjuk rasa di depan kantor Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera atau DPW PKS Sumatera Utara, di Jalan Kenanga Raya, Tanjung Sari, Medan Selayang, Senin, 10 September 2018. Massa menilai gerakan tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden yang digerakkan oleh politikus PKS, Mardani Ali Sera, bertujuan mengganti dasar negara Pancasila.

    Baca juga: Mantan Kepala BAIS: Narasi Gerakan #2019GantiPresiden Salah

    Menurut pengunjuk rasa, gerakan #2019GantiPresiden sengaja digerakkan PKS karena kecewa dengan sikap pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla yang membubarkan Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Massa membentangkan spanduk bertulisan Gerakan #2019GantiPresiden sebagai percobaan makar. Selain membentangkan spanduk, massa yang didominasi pemuda dan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut membakar ban bekas persis di depan kantor DPW PKS.

    "April 2019 pemilu dan pilpres secara serentak dilakukan. Kita semua ingin pesta demokrasi itu damai. Ajakan ganti presiden 2019 sebelum April 2019 berpotensi membenturkan masyarakat. Bahkan ajakan tersebut akan mereka gaungkan lebih besar lagi jika calon presiden yang didukung PKS kalah April 2019," kata Syaid Akbar Pamungkas, juru bicara pengunjuk rasa.

    Baca juga: Pengamat Sarankan #2019GantiPresiden Memperjelas Visi dan Misi

    Pengunjuk rasa menilai PKS melakukan gerakan #2019gantiPresiden itu dengan sasaran untuk menaikkan citra di mata publik, juga dengan sasaran akhir mengajak rakyat antinegara. "Padahal sudah jelas pemilihan presiden dan wakil presiden pada pilpres 2019 hanya akan diikuti dua pasang calon," kata Syaid Akbar.

    Ia mengatakan PKS silakan bantu saja capres yang mereka dukung agar menang tapi jangan menebar kebencian kepada negara dan simbol negara. "Pilpres sebagai sarana demokrasi dibangun dengan susah payah dan dengan biaya yang mahal," ujarnya.

    Ratusan polisi berpakaian dinas dan sipil menjaga aksi unjuk rasa. Akibat aksi ini, jalan di depan kantor DPW PKS, yang menghubungkan Jalan Dokter Mansyur Kampus USU dengan Jalan Ringroad Medan macet. Polisi terpaksa mengalihkan arus lalu lintas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.