Prabowo Sebut Masalah Ekonomi Lebih Penting Ketimbang Timses

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal Calon Presiden Prabowo Subianto (keempat kiri), Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (keempat kanan), dan Presiden PKS Sohibul Iman (ketiga kiri), Wakil Ketua Gerindra Fadli Zon (kedua kiri), Ketua DPP PAN Yandri Susanto (ketiga kanan), dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani (kedua kanan) berfoto bersama sembari berjabat tangan saat memberikan keterangan pers mengenai pandangan kondisi perekonomian bangsa saat ini di Rumah Kertanegara, Jakarta, 7 September 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Bakal Calon Presiden Prabowo Subianto (keempat kiri), Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (keempat kanan), dan Presiden PKS Sohibul Iman (ketiga kiri), Wakil Ketua Gerindra Fadli Zon (kedua kiri), Ketua DPP PAN Yandri Susanto (ketiga kanan), dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani (kedua kanan) berfoto bersama sembari berjabat tangan saat memberikan keterangan pers mengenai pandangan kondisi perekonomian bangsa saat ini di Rumah Kertanegara, Jakarta, 7 September 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, JakartaPrabowo Subianto "menyindir" keriuhan kubu Calon Presiden Inkumben Joko Widodo atau Jokowi yang mengumumkan Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional. Prabowo mengatakan, kondisi ekonomi ini jauh lebih penting dan mendesak.

    Baca: Prabowo Bertemu Ketua Partai Pengusung Bahas Isu Terkini

    "Menurut saya masalah ekonomi ini adalah masalah bangsa, masalah tim sukses masalah teknis. Jadi ini masalah fundamental bangsa," kata Prabowo di rumahnya, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat, 7 September 2018.

    Ada empat poin pernyataan politik koalisi Prabowo - Sandiaga yang disampaikan. Prabowo mempersilakan Sandiaga membaca empat pernyataan politik tersebut. Berikut catatan politik Prabowo - Sandiaga atas kondisi bangsa saat ini.

    1. Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan yang tentunya memberatkan perekonomian nasional khususnya rakyat kecil yang cepat atau lambat harus menanggung kenaikan harga harga kebutuhan pokok termasuk harga kebutuhar makanan sehari-hari rakyat kecil, seperti: tahu tempe.

    2. Melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan itu karena lemahnya fundamental ekonomi yaitu:

    a. Defisit Neraca Perdagangan dan Defisit Transaksi Berjalan (Current Account Deficit).

    b. Sektor manufakturing yang menurun dan pertumbuhan sektor manufakturing yang di bawah pertumbuhan ekonomi. Sektor manufakturing yang pernah mencapai hampir 30 persen PDB pada tahun 1997, sekarang tinggal 19 persen PDB. Hal ini tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita.

    3. Melemahnya fundamental ekonomi ini tidak terlepas dari hemat kami bahwa selama ini terjadi suatu kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. Antara lain tidak berhasilnya pemerintah dalam mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dll.

    4. Pemerintah perlu lebih waspada dan mengambil langkah langkah konkrit untuk mengatasi keadaan yang dihadapi antara lain:

    a. Mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgent, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga harga bahan pokok.

    Simak juga: Politikus Gerindra Bakal Deklarasikan Tagar #2019PrabowoPresiden

    b. Mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial, dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja.

    Baca berita soal koalisi Prabowo - Sandiaga lainnya di kanal Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.