Selasa, 23 Oktober 2018

Survei: Gerakan #2019GantiPresiden Makin Populer, Tapi....

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan orang mengikuti gerak jalan #2019GantiPresiden di Solo, Jawa Tengah, Ahad, 1 Juli 2018. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Ribuan orang mengikuti gerak jalan #2019GantiPresiden di Solo, Jawa Tengah, Ahad, 1 Juli 2018. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Survei Y-Publica mencatat gerakan #2019GantiPresiden semakin populer di tengah masyarakat. Namun dukungan terhadap gerakan ini justru menurun.

    Baca juga: Polisi: #2019GantiPresiden Tak Masalah Asalkan Tidak Ditolak

    Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono mengatakan, masyarakat yang mengetahui dan mendengar gerakan tersebut bertambah. Pada Mei 2018 jumlahnya hanya 50,3 persen. Sementara saat ini jumlahnya meningkat hingga 70 persen.

    Meski semakin populer, sikap publik yang tidak setuju dengan gerakan itu meningkat. "Responden yang tidak mendukung gerakan ini naik dari 67,3 persen pada Mei 2018 menjadi 68,6 persen sekarang," kata Rudi di Bakoel Coffie, Jakarta, Senin, 3 September 2018.

    Rudi mengatakan, persepsi publik terhadap gerakan ini cukup kritis. Sebanyak 28,3 persen responden yang mengetahui gerakan itu menganggap #2019GantiPresiden eebagai gerakan bermuatan politik.

    Baca juga: Inisiator: Semakin Ditekan, #2019GantiPresiden Semakin Besar

    Sementara 25 persen lainnya menganggap itu sebagai kampanye politik sebelum pemilu. Setelah deklarasi calon presiden dan wakil presiden, sebanyak 75,6 persen responden menganggap gerakan itu bukan lagi sebagai ekspresi kebebasan berpendapat.

    Sebanyak 13,6 persen responden bahkan menganggap gerakan #2019GantiPresiden mengarah pada makar. Hanya 8,4 persen yang menilai gerakan tersebut sebagai bentuk protes atau ketidakpuasan terhadap pemerintah.

    Rudi menuturkan, masyarakat bersikap kritis terhadap gerakan ini lantaran kerap membawa isu sektarian dan terang-terangan ditunggangi elite politik tertentu.

    Berdasarkan survei, sebanyak 32,1 persen menilai gerakan #2019GantiPresiden menguntungkan lawan politik Jokowi. Sebanyak 24,9 persen responden bahkan menilai gerakan itu menguntungkan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

    Survei Y-Publica ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan 1.200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Mereka mewakili 120 desa dari 34 provinsi di Indonesia.

    Baca juga: Sindir Pelarangan #2019GantiPresiden, Demokrat: Zaman Presiden SBY Ada Istilah Cabut Mandat

    Survey tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka. Responden yang terpilih akan menjawab menggunakan kuisioner.

    Pengambilan data dilakukan pada 13-23 Agustus 2018. Margin of error survei ini sebesar 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.