Jokowi dan Prabowo Dongkrak Elektabilitas PDIP dan Gerindra

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto bersama Megawati Sukarnoputri saat menyaksikan pertandingan Pencak Silat di Padepokan Silat TMII, Jakarta Timur, Rabu 29 Agustus 2018. Ryan Dwiky Anggriawan/TEMPO

    Prabowo Subianto bersama Megawati Sukarnoputri saat menyaksikan pertandingan Pencak Silat di Padepokan Silat TMII, Jakarta Timur, Rabu 29 Agustus 2018. Ryan Dwiky Anggriawan/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga survei Y-Publica mencatat elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra meningkat. Kenaikan ini dipicu faktor tokoh yang mereka usung di pemilihan presiden 2019, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

    Baca: Cerita Prabowo soal Dukungan Anak Muda yang Membuatnya Terharu

    "Ini yang disebut efek ekor jas atau coat-tail effect," kata Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono di Bakoel Coffie, Jakarta, Senin, 3 September 2018.

    Rudi mengatakan elektabilitas PDI Perjuangan mencapai 27,6 persen pada Agustus 2018. Elektabilitasnya naik dari 25,3 persen pada Mei 2018. Sementara elektabilitas Partai Gerindra naik dari 11,1 persen menjadi 12,4 persen.

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menikmati efek ekor jas. Partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar ini dekat dengan Ma'ruf Amin yang maju sebagai calon wakil presiden Jokowi. Elektabilitasnya meningkat dari 5,1 persen pada Mei menjadi 5,9 persen pada Agustus 2018.

    Elektabilitas Nasional Demokrat serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga mengalami peningkatan lantaran dipengaruhi calon presiden yang mereka dukung. Keduanya sangat agresif mendukung Jokowi. Elektabilitas NasDem naik dari 3,4 persen menjadi 3,7 persen. Sementara PPP naik dari 3,0 persen menjadi 3,3 persen.

    Baca: Hadiri Acara Bedah Buku, Prabowo Berasa di Acara Kampanye

    Kondisi sebaliknya justru menimpa Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ketiga partai besar ini mengalami penurunan elektabilitas setelah gagal dalam negosiasi politik untuk menjadikan kadernya sebagai calon wakil presiden.

    Elektabilitas Partai Golkar turun dari 10,3 persen menjadi 9,7 persen. Sementara Partai Demokrat turun dari 5,7 persen menjadi 5,3 persen. PKS mengalami penurunan elektabilitas dari 3,2 persen menjadi 3,0 persen.

    Di kelompok partai baru, hanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengalami kenaikan elektabilitas dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen. Rudi menuturkan, kenaikan ini didongkrak citra partai sebagai partai anti korupsi. "Citra ini dibuktikan dengan menjadi satu-satunya kontestan pemilu yang mengajukan tidak mendaftarkan caleg mantan narapidana koruptor," katanya.

    Survei Y-Publica ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan 1.200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Mereka mewakili 120 desa dari 34 provinsi di Indonesia.

    Survey tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan responden terpilih dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan data dilakukan pada 13-23  Agustus 2018. Margin of error survei ini sebesar 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.