Cerita Rocky Gerung Soal Obrolan Selamat Natal dengan Gus Dur

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menjadi pembicara dalam acara diskusi bertajuk

    Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menjadi pembicara dalam acara diskusi bertajuk "Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial" yang diselenggarakan oleh PolMark Research Center di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta pada Rabu, 29 Agustus 2018. Dewi Nurita/Tempo

    TEMPO.CO, JakartaRocky Gerung bercerita tentang pertemanannya dengan almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. "Dengan Gus Dur itu, beliau selalu mengucapkan selamat natal kepada saya," kata Rocky dalam acara diskusi "Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial" yang diselenggarakan oleh PolMark Research Center di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta pada Rabu, 29 Agustus 2018.

    Baca juga: Mahfud MD Menilai Ucapan Rocky Gerung Tak Perlu Dilaporkan Polisi

    Menurut Rocky, saat ini masyarakat semakin tidak pluralis. Dalam kehidupan bermasyarakat, ujar dia, sudah sulit menemukan orang-orang seperti Gus Dur.

    Sebagai orang Nasrani, ujar Rocky, dia sangat kagum dengan sikap Gus Dur. "Tapi saya katakan dengan Gus Dur bahwa saya ini tidak serius beragama, Gus," ujar Rocky.

    Kemudian, kata Rocky, Gus Dur membalas dengan santai. "Saya juga tidak serius mengucapkan selamat," ujar Rocky menirukan ucapan Gus Dur sambil tertawa.

    Percakapan tersebut, ujat Rocky, menggambarkan betapa indahnya menghargai perbedaan, yang saat ini sudah berkurang di tengah-tengah masyarakat. "Hantu penyebar ujaran kebencian dimana-mana. Bayangkan pembicaraan saya dengan Gus Dur itu terjadi hari ini, saya pasti di-bully," ujar Rocky.

    Berdasarkan survei PolMark, sebanyak 5,7 persen hubungan pertemanan rusak karena Pilkada DKI 2017. Sementara pada pemilihan presiden 2014, sebanyak 4,3 persen hubungan pertemanan rusak. "Jakarta itu daerah dimana pusat rasionalitas bekerja, tapi kenapa ujaran kebencian tinggi di sana. Hantunya siapa, setannya siapa?" ujar dia.

    Baca juga: Ini Omongan Rocky Gerung yang Dituding Ujaran Kebencian SARA

    Menurut Rocky Gerung, ujaran kebencian dan hoax semakin menyebar karena politik ide semakin ditinggalkan. "Sehingga, semua terendap menjadi kebencian," ujar dia.

    Menurut peneliti LIPI Siti Zuhro, partai politik yang paling bertanggungjawab dalam hal ini. Menurut dia, partai harus menjalankan fungsinya dalam pendidikan politik. "Selain itu, elite politik juga harus mengedukasi. Bukan justru saling mencaci dan jadi tontonan masyarakat," ujar Siti Zuhro di lokasi yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.