Sabtu, 17 November 2018

Antropolog Parsudi Suparlan Wafat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Antropolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Parsudi Suparlan ditemukan meninggal dunia di rumahnya di kompleks dosen UI, Ciputat, Kamis (22/11). Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini mangkat pada usia 69 tahun."Beliau diperkirakan meninggal tengah malam hingga pagi, namun karena keluarganya di Amerika Serikat, baru ketahuan pagi," kata Rektor UI, Gumilar Rusliwa Somantri pada Tempo. Gumilar memperkirakan penyebab kematian Suparlan akibat usia lanjut. Sebelumnya, menurut Gumilar, memang ada keluhan tingginya kadar gula, asam urat, dan kolesterol yang umum menimpa kaum sepuh. Namun, hingga akhir hayatnya, Gumilar melihat Suparlan tetap aktif menulis, mengajar, mengikuti seminar, bahkan menjadi promotor disertasi mahasiswa doktoral. Selain mengajar di UI, Suparlan juga mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Suparlan memberi kuliah antropologi, ilmu kepolisian, masalah perkotaan, dan hubungan antar suku bangsa. Seorang rekan kerja di PTIK, Sidratahta Mukhtar mengatakan Suparlan merupakan sosok ilmuwan luar biasa. "Pemikirannya menjadi inspirasi mahasiswa lintas disiplin, namun beliau tetap rendah hati dan sederhana," kata dosen Ilmu Politik dan Keamanan PTIK ini. Suparlan memang dikenal sebagai dosen yang berwawasan terbuka. Ketika hampir seluruh aktivis berteriak korupsi adalah budaya yang telah mengakar di nadi bangsa, dia membantahnya. Baginya, korupsi bukan budaya asli bangsa melainkan akibat persinggungan dengan budaya luar. Suparlan juga merupakan salah satu penggagas community policing atau polisi yang dekat dengan warga. Gumilar dan Sidra menyatakan konsep beliau tersebut menjadi inspirasi banyak kalangan, terlebih di era reformasi kepolisian ini. Salah satu langkah terbesar dalam hidup Suparlan adalah saat ia ditunjuk Mabes Polri untuk memimpin tim pakar antropologi, sosiologi, dan psikologi untuk meneliti penyebab konflik antar etnis Madura dengan Melayu Sambas di Sambas, 1999 lalu. Saat itu dengan berani ia berpendapat, konflik antarkomunitas etnis di Sambas terjadi karena orang Madura yang ada di Sambas atau di Kalbar, umumnya bersifat ingin menang-menangan. Tidak ada patokan aturan yang mereka ikuti. Sementara itu, orang Melayu seperti orang Jawa, lebih nrimo, mengalah. Suparlan mengatakan orang Melayu lebih senang hidup rukun damai daripada cari perkara. Orang Madura sekiranya ada persengketaan sedikit, langsung cabut clurit. Membacok. Selain meneliti akar etnis, Suparlan memiliki ketertarikan khusus dengan budaya ibukota. Beberapa artikelnya telah diterbitkan antara lain di Jurnal Antropologi Indonesia, dan Badan Perencanaan Kotamadya Jakarta Pusat. Selain itu, sejumlah buku yang ia tulis, seperti Kemiskinan di Perkotaan, dan Orang Sakai di Riau telah menjadi acuan penelitian antropologi perkotaan. Jenazah Suparlan dishalatkan di Masjid UI kemudian disemayamkan di Fisip UI. Kini, Taman Pemakaman Keluarga Besar Kepolisian di Cikeas menampung raga duniawi doktor lulusan Illinois University ini. Sebuah penghargaan terakhir yang layak diberikan pada seorang staf ahli Kapolri. shinta eka p

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.