Empat Hoax Seputar Gempa Lombok yang Disanggah BNPB

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (tengah) berdialog dengan korban gempa di posko pengungsian Dusun Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 14 Agustus 2018. Pemerintah akan memberi bantuan perbaikan rumah rusak ringan sebesar Rp 25 juta dan Rp 50 juta untuk rumah rusak berat. ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (tengah) berdialog dengan korban gempa di posko pengungsian Dusun Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 14 Agustus 2018. Pemerintah akan memberi bantuan perbaikan rumah rusak ringan sebesar Rp 25 juta dan Rp 50 juta untuk rumah rusak berat. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah kabar bohong (hoax) mewarnai proses penanganan bencana gempa Lombok yang dilaksanakan pemerintah bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Baca: Bersihkan Reruntuhan, Satgas Gempa Lombok: Sepekan Harus Bersih

    Beberapa hoax tersebut diantaranya adalah bantuan masyarakat melalui PT Pos Indonesia diklaim sebagai bantuan BNPB dan BPBD NTB, isu korban bencana yang memakan makanan hewan ternak dari relawan Jokowi, dan isu korban bencana yang terpaksa memakan serabut kelapa.

    Tempo merangkum kabar bohong yang beredar di tengah masyarakat terkait gempa Lombok yang telah diklarifikasi oleh BNPB melalui situs resminya dan cuitan akun Twitter pribadi Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di akun @Sutopo_PN.

    1. Bantuan Masyarakat Melalui PT Pos Indonesia Diklaim Sebagai Bantuan BNPB dan BPBD NTB

    Dilansir dari situs resmi bnpb.go.id, beredar keluhan masyarakat melalui jejaring sosial Facebook yang mengatakan bantuan korban gempa bumi Lombok yang diklaim dari BNPB dan Presiden dikirimkan melalui PT Pos Indonesia.

    Baca: BNPB: Kerugian Ekonomi Gempa Lombok Bertambah Menjadi Rp 7,45 T

    Terkait dengan hal ini, Sutopo melalui keterangan tertulis yang diunggah dalam situs resmi BNPN telah melakukan klarifikasi atas keluhan tersebut dengan mengatakan tidak benar bantuan BNPB dan BPBD NTB dikirimkan melalui PT Pos Indonesia. BNPB sejauh ini telah mengirimkan 75 ton bantuan logistik melalui pesawat kargo untuk penanganan bencana gempa Lombok dan tambahan bantuan akan terus dikirimkan.

    Selain itu, bantuan dari masyarakat melalui Posko TNI dari Gudang Logistik di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma Jakarta dan Lanud Adi Sumarmo Boyolali terus disalurkan dengan 8 pesawat Hercules TNI. Bantuan dari TNI, Polri, Kementerian/Lembaga juga dikirim melalui pesawat dan kapal. Semua bantuan dicatat dan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak gempa Lombok.

    BNPB juga mengatakan PT Pos Indonesia telah menggelar program Pos Peduli Korban Bencana gempa bumi Lombok sejak 29 Juli hingga 16 Agustus 2018. PT Pos Indonesia membantu pengiriman bantuan berupa barang dan donasi uang secara gratis dari seluruh wilayah Indonesia.

    Pengiriman gratis untuk bantuan korban gempabumi Lombok seharusnya ditujukan dengan alamat "POSKO BENCANA ALAM LOMBOK" yang berkantor di PT Pos Mataram, Kota Mataram. Namun ternyata banyak pengirim bantuan yang menuliskan alamat pribadi pada alamat tujuan.

    Baca: Korban Meninggal Gempa Lombok Bertambah Jadi 460 Orang

    Untuk bantuan dengan tujuan alamat pribadi, kantor pos Mataram tetap mengupayakan penyerahan kepada penerima sesuai dengan alamat tertulis. Namun pengiriman bantuan dengan tujuan alamat pribadi diperkirakan BNPB dapat terlambat. Keterlambatan ini disebabkan karena kantor pos Mataram memberi prioritas bantuan yang ditujukan ke Posko Bencana Alam sesuai tujuan awal. Kondisi jalan yang rusak dan alamat pribadi yang banyak terpencar di Lombok juga menjadi alasan keterlambatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.