Pengungsi Gempa Lombok Minta Pemerintah Tambah Fasilitas MCK

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengungsi korban gempa bumi mencuci pakaian mengunakan air dari parit di dekat tempat pengungsian di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara, NTB, Sabtu, 11 Agustus 2018. Sejumlah tempat pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di berbagai wilayah di NTB membutuhkan perangkat sanitasi untuk mandi, cuci, dan kakus. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Seorang pengungsi korban gempa bumi mencuci pakaian mengunakan air dari parit di dekat tempat pengungsian di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara, NTB, Sabtu, 11 Agustus 2018. Sejumlah tempat pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di berbagai wilayah di NTB membutuhkan perangkat sanitasi untuk mandi, cuci, dan kakus. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Lombok Utara - Para pengungsi korban gempa Lombok di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, kesulitan untuk kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK) karena minimnya fasilitas MCK di lokasi pengungsian.

    "Kalau soal MCK, kami minim sekali. Itu pun yang ada baru di dua titik, di Dusun Lading-Lading dan Kandang Kaok," kata Kepala Desa Tanjung Budiawan pada Selasa, 14 Agustus 2018.

    Baca: Jokowi dan TGB Berboncengan Motor Trail Tinjau Korban Gempa

    Menurut Budiawan, minimnya MCK ini terjadi sejak gempa baru terjadi dan warga mulai mengungsi. "Rata-rata warga kami kan rumahnya hancur, sehingga MCK yang ada tidak bisa digunakan lagi karena semua sudah rata dengan tanah," ujarnya.

    Akibat tidak ada MCK yang memadai, warga setempat akhirnya memanfaatkan kali yang ada di sekitar wilayah Tanjung. "Harapan kami, pemerintah bisa membantu menyediakan fasilitas MCK di posko-posko pengungsian," katanya.

    Baca: PVMBG Minta Pemda Sosialisasikan Rumah Tahan Gempa Lombok

    Kondisi ketiadaan MCK tersebut juga dirasakan warga yang berada di lokasi pengungsian di Desa Pemenang, Kecamatan Pemenang. Di tempat ini, ratusan warga bergantung pada aliran sungai untuk kegiatan MCK. "Syukur ada air kali. Kalau tidak di kali, mau di mana lagi, karena rumah-rumah juga sudah hancur," kata Ami, salah satu pengungsi.

    Ia mengatakan tidak adanya fasilitas MCK dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan para pengungsi. Terlebih banyak di antara pengungsi adalah anak-anak. "Kalau untuk logistik, warga tidak kurang. Tapi yang jadi masalah ini MCK dan air bersih. Makanya harapan kita air dan fasilitas MCK bisa menjadi perhatian pemerintah daerah," tutur Ami.

    Baca: Ini Kesulitan dan Kebutuhan untuk Penanganan Korban Gempa Lombok

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.