Gempa Lombok, Pengungsi di Lombok Barat Butuh Terpal dan Air

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi korban gempa bumi menjemur pakaiannya di sekitar tempat pengungsian di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu, 11 Agustus 2018. Sejumlah tempat pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di berbagai wilayah di NTB membutuhkan perangkat sanitasi untuk mandi, cuci, dan kakus. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Pengungsi korban gempa bumi menjemur pakaiannya di sekitar tempat pengungsian di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu, 11 Agustus 2018. Sejumlah tempat pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di berbagai wilayah di NTB membutuhkan perangkat sanitasi untuk mandi, cuci, dan kakus. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Lombok Barat - Korban gempa Lombok yang saat ini mengungsi di tenda-tenda pengungsian di Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat sangat membutuhkan terpal dan air bersih.

    Kepala Seksi Trantib Kecamatan Batulayar, Herman Rogo mengatakan kebutuhan paling mendesak warga yang tinggal di posko-posko pengungsian, yakni terpal dan air bersih. "Kalau makanan atau logistik ini sudah banyak. Tapi yang kurang ini terpal untuk membuat tenda dan air untuk kebutuhan sehari-hari," kata dia, Ahad, 12 Agustus 2018.

    Baca: BMKG: Prediksi Gempa Lombok 6,9 SR di Facebook Bukan dari Kami

    Menurut Herman, ketiadaan terpal dan air bersih membuat masyarakat yang tinggal di posko-posko pengungsian mengeluh. Minimnya terpal membuat mereka akhirnya tidak bisa tidur karena pada malam hari cuacanya begitu dingin. "Makanya kalau ada tambahan terpal kami minta segera agar bisa di-dropping," ujarnya.

    Sementara itu, salah satu pengungsi, Ahmad mengakui soal minimnya terpal dan air bersih untuk pengungsi. "Kami bilang terpal kurang...iya, karena satu tenda diisi belasan orang. Tapi kalau ada bantuan tenda kami bisa buat lagi, sehingga pengungsi tidak menumpuk," kata dia.

    Dari 9 desa di Kecamatan Batu Layar, kata Herman, yang terdampak bencana gempa pada Ahad, 5 Agustus lalu, ada empat desa yang paling parah mengalami kerusakan, yaitu Desa Senggigi, Senteluk, Batu Layar Induk dan Batu Layar Barat. Adapun jumlah warga yang terdampak dan kini harus tinggal di tenda-tenda pengungsian berjumlah sekitar 8 ribu orang.

    Baca: Badan Geologi Bikin Sumur Bor untuk Pengungsi Gempa Lombok

    Herman menyebutkan rumah-rumah warga di desa-desa itu mengalami kerusakan parah. "Rata semua bangunan hampir 60 persen rusak parah. Kalau Senggigi 75 persen rusak, meski di luar kokoh tapi kalau d dalam hancur," ujarnya.

    Menurut Herman, Kabupaten Lombok Barat sebetulnya sudah berusaha agar para pengungsi bisa ditempatkan di satu posko induk di Kantor Kepala Desa. Hanya saja, warga tidak mau karena khawatir ada gempa susulan dan ingin menjaga barang-barang.

    Sampai hari ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 436 orang meninggal akibat gempa Lombok. Sementara itu, kerugian materil diperkirakan mencapai sekitar Rp 5,04 triliun.

    Baca: Viral Ancaman Gempa Bermagnitudo 6,9 di Lombok, Ini Kata BMKG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.