Kamis, 18 Oktober 2018

Lima Orang Meninggal Akibat Gempa Susulan di Kota Mataram

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga korban gempa bersiap melaksanakan salat Jumat di pengungsian Desa Sigarpenjalin, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat, 10 Agustus 2018. ANTARA

    Warga korban gempa bersiap melaksanakan salat Jumat di pengungsian Desa Sigarpenjalin, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat, 10 Agustus 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Akibat gempa susulan berkekuatan 6,2 skala Richter yang terjadi pada Kamis, 9 Agustus 2018, lima orang meninggal di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

    Baca juga: Gempa Lombok, BNPB Duga Masih Banyak Korban di Reruntuhan Masjid

    "Dengan demikian, total korban gempa bumi di Kota Mataram tercatat sebanyak 11 orang," kata Sekretaris Daerah Kota Mataram H Effendi Eko Saswito di Mataram, Jumat, 10 Agustus 2018.

    Berdasarkan data dari posko penanganan bencana pemerintah kota, lima orang korban meninggal dunia akibat gempa susulan itu adalah Erna Wati, 47 tahun, dari Lingkungan Karang Baru, meninggal karena tertimpa bangunan kanopi; Hj Maemunah (70) dari Lingkungan Tembelok, dan Ni Luh Renpi dari Lingkungan Dasan Sari meninggal karena serangan jantung.

    "Hj Maemunah dan Ni Luh Renpi ini mengalami syok karena gempa susulan 6,2 SR," ujar Eko.

    Sementara itu, dua korban lainnya, yakni Ainsa (70) dari Lingkungan Pengempel dan Zulhadi (35) dari Lingkungan Dasan Sari, meninggal karena tertimpa tembok.

    Baca juga:  BNPB: H+3 Gempa Lombok Masuk Masa Kritis Evakuasi Korban

    "Pemerintah kota tetap akan memberikan santunan belasungkawa bagi keluarga korban yang ditinggalkan seperti halnya enam korban gempa bumi 7,0 SR," katanya.

    Eko mengatakan gempa susulan pada 6,2 SR juga menyebabkan terjadinya peningkatan terhadap jumlah pengungsi di Kota Mataram hingga lebih 50 persen.

    Sebelumnya tercatat pengungsi sebanyak 39 ribu jiwa lebih, kemudian menjadi 66.674 jiwa. Mereka mengungsi sebagian karena rumahnya rusak, tapi rata-rata warga yang mengungsi karena mereka tidak berani kembali ke rumah pascagempa.

    "Tetapi memang kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak berada di dalam rumah, jadi mau tidak mau mereka berada di luar rumah," katanya.

    Baca juga: BNPB Menilai Perbedaan Data Korban Gempa NTB Lumrah

    Menurut Eko, pengungsi yang ada di Kota Mataram bukan pengungsi permanen seperti kasus-kasus korban gempa di Kabupaten Lombok Utara, karena bangunan rumah mereka dan fasilitas umum runtuh total.

    "Kalau pengungsi di Mataram hanya untuk penyelamatan sementara, sehingga jumlah pengungsi di malam hari meningkat signifikan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kode-Kode Rahasia Izin Meikarta dan Besar Suap yang Mengalir

    Inilah oknum-oknum yang diduga menerima suap izin Meikarta dan kode-kode yang diduga digunakan untuk menyamarkan permufakatan ilegal itu.