Rabu, 17 Oktober 2018

Demokrat dan Gerindra Saling Sindir, Sekjen PKPI: Saya Prihatin

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto. Foto: Istimewa

    Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Verry Surya Hendrawan menyatakan keprihatinannya atas sikap saling sindir dan cerca yang dilakukan Partai Gerindra dan Demokrat. "Saya prihatin. Kita dipaksa menyaksikan sikap saling sindir dan cerca. Ini bukan sifat luhur bangsa Indonesia," kata Verry dalam siaran tertulisnya, Kamis, 9 Agustus 2018.

    Baca: Sebut Prabowo Jenderal Kardus, Andi Arief: Itu Jenderal yang ...

    Verry mengatakan bahwa perjuangan dalam demokrasi seharusnya tidak berproses demikian. Para elite, kata dia, semestinya dapat memberikan contoh bahwa demokrasi itu menggembirakan dan justru memperkuat persaudaraan. Menurut dia, hal itu juga sesuai dengan arah Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk merangkul semua kalangan. "Terbuka dengan semua pihak dan mengedepankan kepentingan nasional," katanya.

    Sikap saling sindir dan cerca berawal dari berangnya elite Partai Demokrat terhadap Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus.

    Baca: Setelah Sebut Prabowo Jenderal Kardus, Demokrat: Masih Koalisi

    Sebutan Jenderal Kardus itu disampaikan Andi Arief melalui akun twitternya, Rabu malam, 8 Agustus 2018. Andi Arief menjelaskan, sebutan itu muncul karena adanya politik transaksional yang diduga dilakukan Prabowo dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno tanpa sepengetahuan Demokrat. Ia menilai Prabowo telah melakukan sesuatu di luar pengetahuan Demokrat sebagai rekan koalisi.

    Andi Arief menuliskan Prabowo ditubruk uang Sandiaga, untuk meng-entertain Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Diduga, Sandiaga sanggup memberi masing-masing partai itu Rp 500 miliar untuk maju sebagai wakil presiden Prabowo.

    Baca juga: Sekjen Gerindra Beberkan Isi Surat Prabowo untuk SBY

    Andi menegaskan, dalam koalisi bersama Gerindra, partainya tidak pernah berkhianat. Demokrat, lanjut Andi, juga tidak pernah menawarkan calon wakil presiden kepada Prabowo. Untuk itu, Andi mengaku kecewa dengan adanya politik transaksional itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jamal Khasoggi dan 4 Jurnalis yang Tewas karena Kasus Korupsi

    Jamal Khasoggi dan sejumlah wartawan tewas di Eropa ketika melakukan investigasi kasus korupsi. Ada yang diperkosa, dibom, dan bahkan dimutilasi.