BNPB: Konstruksi Rumah di Indonesia Belum Dirancang Tahan Gempa

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat membongkar bangunan Masjid Nurul Iman yang rusak akibat gempa bumi di Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa, 7 Agustus 2018. Sampai saat ini, BNPB telah merilis 105 warga NTB menjadi korban meninggal akibat gempa Lombok. ANTARA/Zabur Karuru

    Alat berat membongkar bangunan Masjid Nurul Iman yang rusak akibat gempa bumi di Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa, 7 Agustus 2018. Sampai saat ini, BNPB telah merilis 105 warga NTB menjadi korban meninggal akibat gempa Lombok. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan rumah-rumah di Indonesia kebanyakan belum dirancang untuk tahan gempa.

    "Padahal Indonesia rawan bencana, termasuk gempa. Tidak perlu takut, tetapi kita harus siap menghadapi bencana," kata Sutopo dihubungi di Jakarta, Rabu, 8 Agustus 2018.

    Baca: BMKG Ungkap Penyebab Gempa Malang

    Sutopo mengatakan beberapa upaya untuk bersiap menghadapi gempa adalah dengan membangun rumah yang dirancang tahan gempa, mempelajari cara-cara menyelamatkan diri dan melakukan latihan secara rutin.

    Ia mencontohkan gempa yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang mengakibatkan banyak rumah rusak dan hancur. Korban di Kota Mataram relatif lebih sedikit karena bangunannya relatif lebih tahan gempa.

    "Padahal, kekuatan yang dirasakan di Mataram dengan Kabupaten Lombok Utara sama, tetapi korban lebih sedikit karena sudah menggunakan konstruksi yang lebih tahan gempa," kata Sutopo.

    Baca: Masyarakat Korea Selatan dan Jepang Bersimpati Atas Gempa Lombok

    Menurut Sutopo, selain belum membangun rumah yang tahan gempa, masyarakat Indonesia masih lemah dalam menyelamatkan diri karena tidak pernah melakukan latihan secara rutin. "Bagaimana bisa selamat kalau tidak tahu cara menyelamatkan diri karena tidak pernah latihan," ujarnya.

    Karena itu, kata Sutopo, belajar dari pengalaman beberapa kejadian gempa, ia menilai hal itu seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah agar membuat aturan supaya bangunan-bangunan di wilayahnya dibuat tahan gempa. "Keterbatasan pasti ada, misalnya pemahaman tukang bangunan yang terbatas. Karena itu perlu diadakan pelatihan-pelatihan bagi tukang. Semua pedomannya sudah ada dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," kata dia.

    Baca: Gempa Susulan Masih Terjadi di Lombok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.