Minggu, 21 Oktober 2018

Dituduh Tak Pro Islam, Jokowi: Yang Menetapkan Hari Santri Siapa?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo alias Jokowi memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2018. Presiden terlihat mengenakan sepatu kets berwarna hitam dan putih saat memimpin sidang. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo alias Jokowi memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2018. Presiden terlihat mengenakan sepatu kets berwarna hitam dan putih saat memimpin sidang. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi membantah tudingan dirinya tidak pro Islam. Dalam membuktikan dirinya pro Islam, Jokowi pun merujuk pada salah satu kebijakannya yang menetapkan setiap 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

    Baca juga: Jokowi Setuju 22 Oktober Jadi Hari Santri Nasional

    "Yang buat Keppres Hari Santri Nasional tuh siapa? Masa sudah kayak gitu dibilang tidak pro Islam," kata Jokowi di Kantor Bupati Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, 8 Agustus 2018.

    Jokowi mengatakan bahwa dirinya seorang muslim dan hampir setiap hari, pekan, dan bulan selalu pergi ke sejumlah tempat bersama para tokoh Islam, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia Maruf Amin dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar.

    Menurut Jokowi, sepanjang dirinya memimpin juga hampir setiap pekan mengunjungi pondok pesantren untuk melihat kesulitan yang dihadapi. Selain itu, kata Jokowi, pemerintah juga telah membuka 40 bank mikro wakaf di pesantren untuk memperbaiki ekonomi umat.

    Baca juga: Demi 'Jihad Keindonesiaan', Jokowi Deklarasikan Hari Santri  

    "Saya ke NU bersama Garuda Food nanem kacang berapa ratus hektare di Jawa Timur juga. Kemitraan seperti ini yang akan memperbaiki ekonomi umat kita. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, gap antara kaya dan miskin semakin lebar," ujar Jokowi.

    Penetapan Hari Santri ini dinyatakan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tertanggal 15 Oktober 2015. Tanggal 22 Oktober dipilih karena mempresentasikan subtansi kesantrian, yakni spritualitas dan patriotisme, ketika Kiai Hasyim Asyari mengumumkan fatwa masyhur yang disebut Resolusi Jihad, merespons agresi Belanda kedua.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.