Rabu, 17 Oktober 2018

Soal Pidato Jokowi Berani Berantem, Ngabalin: Perintah Panglima

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi menghadiri rapat umum relawan Jokowi di Sentul International Convention Centre, Bogor, Sabtu, 4 Agustus 2018. TEMPO/Friski Riana

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi menghadiri rapat umum relawan Jokowi di Sentul International Convention Centre, Bogor, Sabtu, 4 Agustus 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Tenaga Ahli Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, mengatakan tidak ada yang salah dalam pidato berani diajak berantem yang disampaikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi di hadapan relawan. Menurut Ngabalin, orang yang mengkritik Jokowi tidak melihat pidato tersebut secara utuh.

    Baca: Soal Pidato Berani Diajak Berantem, Jokowi: Ditonton yang Komplet

    Ngabalin mengatakan jika mendengar pidato itu dengan lengkap, maka Jokowi tidak berupaya memancing keributan. Justru, kata dia, dalam pidatonya tersebut Jokowi mengajak agar masyarakat tidak menyebarkan berita bohong serta menjaga kerukunan. "Di belakangnya dia bilang 'tapi kalau diajak berantem, jangan takut'. Apa itu artinya? Itu artinya perintah panglima perang dan saya Insya Allah panglimanya," kata Ngabalin di Kantor KSP, Jakarta, Selasa 7 Agustus 2018

    Ngabalin menampik jika hanya dari pidato tersebut Jokowi dianggap sosok yang arogan. Menurut dia, karakter Jokowi adalah orang yang ingin menghindari terjadi konflik.

    Baca juga: Begini Pidato Lengkap Jokowi Soal Siap Diajak Berantem yang Viral

    "Orang Solo itu nunjuknya bukan seperti saya anak Buton, anak Papua, anak Kei, anak Bali, anak Bugis. Bukan menunjuk pakai telunjuk, tapi pakai jempol. Artinya beliau menghindar adanya benturan. Nunjuknya saja pakai jempol," ujarnya.

    Ketimbang menganggap Jokowi sosok yang arogan, Ngabalin meminta oposisi introspeksi diri dan memikirkan kembali berbagai kegiatan yang selama ini mereka lakukan. "Kenapa mereka selama ini membuat #2019GantiPresiden, takjil ganti presiden, taraweh ganti presiden, makan ganti presiden,"tuturnya.

    Simak: Relawan Jokowi Mania Siap Berdiri di Garis Depan Hadapi Segala Risiko

    Jokowi memang menyampaikan agar jangan takut jika diajak berkelahi dalam rapat umum relawan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Sabtu pekan lalu. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan, "jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi kalau diajak berantem juga berani."

    Simak juga: Jokowi ke Relawan: Di Sana Militan, Di Sini Harus Lebih Militan

    Namun Jokowi buru-buru menegaskan ucapannya tersebut, "tapi jangan mengajak (berantem) loh. Saya bilang tadi, tolong itu digarisbawahi. Jangan mengajak. Kalau diajak (berantem), tidak boleh takut."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.