Kamis, 13 Desember 2018

LIPI: Isu SARA Menjadi Besar karena Dikapitalisasi Elite Politik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sosialisasi hasil survey ahli yang dilakukan oleh LIPI, memetakan kondisi politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan menjelang pemilu serentak 2019 di Jakarta, Selasa, 7 Agustus, 2018. TEMPO/M Isa

    Sosialisasi hasil survey ahli yang dilakukan oleh LIPI, memetakan kondisi politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan menjelang pemilu serentak 2019 di Jakarta, Selasa, 7 Agustus, 2018. TEMPO/M Isa

    TEMPO.CO, Jakarta - Isu suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA menjadi besar karena dikapitalisasi dan dimanipulasi elite politik.

    Baca juga: Isu SARA Dianggap Masih Jadi Primadona di Pilkada 2018 

    "Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa isu SARA tidak signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Isu SARA terjadi di Pilkada DKI karena kecenderungan manipulasi dan dikapitalisasi elite politik," ujar peneliti LIPI Prof. Dr. Syarif Hidayat dalam penjelasan hasil survei LIPI di Jakarta, Selasa.

    Survei ini dilakukan terhadap 145 ahli bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, yang tersebar di 11 provinsi selama kurun waktu April hingga Juli 2018. Survei ini sebagai bagian pelaksanaan kegiatan survei "pemetaan kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan menjelang pemilu serentak 2019: dalam rangka penguatan demokrasi" yang merupakan bagian dari program prioritas nasional (PN) tahun 2018.

    Syarif mengatakan dari survei ahli yang dilakukan tim peneliti LIPI itu diketahui bahwa tindakan persekusi yang belakangan marak terjadi di masyarakat mayoritas disebabkan penyebaran berita hoaks (92,4 persen), ujaran kebencian (90,4 persen), radikalisme (84,2 persen), kesenjangan sosial (75,2 persen), perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain (71,1 persen), sedangkan aspek "relijiusitas" (67,6 persen) dan ketidakpercayaan antarkelompok/suku/agama/ras (67,6 persen).

    Baca juga:  Perludem: Isu SARA Masih Akan Efektif di Pilkada 2018

    Persentase itu menurut dia menunjukkan bahwa isu SARA tidak begitu signifikan terjadi di tingkat akar rumput melainkan hanya merupakan isu yang dipolitisasi para elite politik.

    Syarif mengatakan solusi mengatasi berkembangnya isu SARA adalah dengan mengelola dan mengendalikan perilaku elite politik.

    Peneliti LIPI Prof. Dr. Syamsuddin Haris mengajak seluruh pihak mengimbau elite politik kembali ke jalan yang benar dengan tidak mempolitisasi SARA demi kepentingan jangka pendek.

    "Politisasi SARA dampaknya sangat besar. Jangan mudah melakukan manipulasi dan politisasi yang mengatasnamakan SARA, ini akan mengakibatkan konflik horizontal," kata Syamsuddin Haris.

    Baca juga: Empat Provinsi Rawan Gunakan Isu SARA dalam Pilkada 2018

    Koordinator penelitian ini Eky Ekawati mengatakan politisasi SARA dan politik identitas berpotensi menghambat konsolidasi demokrasi di Indonesia. "Politisasi SARA dan politik identitas merupakan masalah yang berpotensi menghambat penyelenggaraan pemilu serentak 2019 maupun konsolidasi demokrasi" kata Eky.

    M ISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Avengers End Game, Para Jagoan yang Selamat Menuju Laga Akhir

    Sejumlah jagoan yang selamat dari pemusnahan Thanos di Infinity War akan berlaga di pertarungan akhir di Avengers Infinity War.