Jumat, 19 Oktober 2018

Gerindra: Kami Tak Pernah Membenci Jokowi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi memberikan sambutan dalam konser Harmoni Indonesia 2018 di GBK, Senayan, Ahad, 5 Agustus. Dalam sambutannya, Jokowi berharap semangat kerukunan dan kebangsaan terus dijaga. TEMPO/Subekti

    Presiden Jokowi memberikan sambutan dalam konser Harmoni Indonesia 2018 di GBK, Senayan, Ahad, 5 Agustus. Dalam sambutannya, Jokowi berharap semangat kerukunan dan kebangsaan terus dijaga. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan partainya tidak pernah membenci Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Andre memberi salah satu contoh sikap Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto ketika kalah dalam pemilu 2014.

    Baca juga: Ditanya Soal Deklarasi Capres 2019, Jokowi Tunjuk Megawati

    "Beliau menunjukkan kenegarawanan beliau, beliau datang ke pelantikan pak Jokowi di gedung DPR/MPR dan memberi hormat pada pak Jokowi sebagai kepala pemerintahan dan presiden Republik Indonesia," kata Andre di Jakarta, Minggu, 5 Agustus 2018.

    Andre kemudian memberi contoh lain yang menegaskan bahwa Prabowo memiliki hubungan baik dengan Jokowi. Di antaranya saat masa-masa Jokowi gagal melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri. Ia menceritakan saat Jokowi dalam keadaan kalut hingga partai-partai pendukung pemerintah "ngambek", bahkan berimbas dengan tersendatnya pengesahan APBN-P 2015.

    "Pak Prabowo datang ke istana Bogor, memberikan motivasi dan masukan hingga akhirnya pak Jokowi punya nyali melantik Badrodin Haiti. Banyak kasus-kasus lain yang menunjukkan bahwa kami tidak pernah membangun narasi kebencian," ujarnya.

    Meskipun demikian, Andre mengatakan polarisasi yang kini terjadi pada masyarakat adalah akibat dari kepemimpinan Jokowi. Ia membandingkan kepemimpinan Jokowi dengan sepuluh tahun kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ia nilai tenteram dan damai dalam balutan kebhinnekaan.

    "Setelah pak Jokowi dengan baju kotak-kotaknya memimpin Republik Indonesia ini, mulai lah Indonesia dalam pengkotak-kotakkan," ucap Andre.

    Ia kemudian menyinggung pernyataan Jokowi dalam acara relawan Pro Jokowi (Projo) di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 4 Agustus 2018 yang dia anggap provokatif.

    Dalam acara rapat umum relawan di Bogor itu, Jokowi meminta pendukungnya tidak memulai permusuhan, mencela, memfitnah, dan menjelekkan orang lain. "Tapi, kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi.

    Baca juga: Pernyataan Jokowi Dinilai Provokatif, Begini Tanggapan Istana

    Menurut Andre, Jokowi sebagai presiden seharusnya menghimbau agar pemilu 2019 berjalan aman, damai, dan tenteram. Pemilu 2019, kata Andre, harusnya menjadi festival adu gagasan, bukan adu otot.

    "Tapi pak Jokowi membangun narasi kebencian dengan mendorong agar tidak takut berkelahi. Ini kan diindikasikan pak Jokowi mendorong ada undangan kekerasan dalam pemilu 2019 nanti," tutur Andre.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.