Adhyaksa Dault Minta Pramuka Jaga Netralitas di Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault saat tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dalam menyambut hari Pramuka ke-57, Ahad, 5 Agustus 2018. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault saat tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dalam menyambut hari Pramuka ke-57, Ahad, 5 Agustus 2018. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault mengingatkan kader Pramuka untuk menjaga netralitas menjelang pemilu dan pemilihan presiden 2019.

    Baca: Sultan Yogya dan Budi Waseso Masuk Bursa Calon Ketua Pramuka

    "Sebentar lagi akan ada event pemilu dan pemilihan presiden. Sebagai anggota Pramuka harus netral," ujar Adyaksa saat ditemui di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Ahad 5 Agutus 2018.

    Adhyaksa mengingatkan anggota Pramuka untuk meneladani jiwa perjuangan para pahlawan yang berkorban hanya untuk NKRI, tanpa ada membawa kepentingan apa pun.

    Dia juga meminta para kader Pramuka agar tidak berjuang lantaran ada kepentingan kelompok atau bahkan partai tertentu. "Berjuang bukan karena atas kepentingan partai atau kelompok tertentu," ujar Adhyaksa yang juga telah menjadi politikus Gerindra sejak April 2018 dan mendukung Prabowo menjadi capres 2019.

    Selain itu, kata Adhyaksa, anggota Pramuka harus menjadi contoh bagi anak muda Indonesia. Jangan sampai terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah bangsa menjelang pilpres.

    Baca: Adhyaksa Dault: Kenapa Imam Nahrawi Benci Banget Sama Saya?

    Menurut Adhyaksa, anggota Pramuka harus memiliki prinsip bahwa siapa pun yang akan menjadi presiden, maka dia merupakan bagian dari bangsa. "Kader Pramuka harus memiliki prinsip siapa yang terpilih sebagai presiden adalah bagian dari bangsa, jangan sampai terpecah belah," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.