Senin, 17 Desember 2018

Pengamat: Keputusan Cawapres Bisa Picu Perpecahan Koalisi Pilpres

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi bertemu dengan sekretaris jenderal dari sembilan partai pendukungnya dalam pemilihan presiden 2019 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 31 Juli 2018. Foto: Biro Pers Kepresidenan

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi bertemu dengan sekretaris jenderal dari sembilan partai pendukungnya dalam pemilihan presiden 2019 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 31 Juli 2018. Foto: Biro Pers Kepresidenan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai keputusan calon wakil presiden atau cawapres yang akan dipilih Joko Widodo atau Jokowi maupun Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpotensi membuat perpecahan di tubuh koalisi jika tokoh yang dipilih tidak bisa diterima atau menguntungkan salah satu pihak saja.

    “Kebuntuan koalisi di kedua poros, resistensi dan tingkat penerimaan yang rendah atas keputusan Jokowi ataupun Prabowo terhadap pilihan cawapres akan membuat perpecahan di dua poros ini,” kata Pangi lewat keterangannya pada Jumat, 3 Agustus 2018.

    Baca: PKB: Koalisi Jokowi Lebih Siap Ketimbang Koalisi Prabowo

    Menurut Pangi, situasi ini dapat membuka dua kemungkinan. Pertama, peluang poros ketiga bisa hidup kembali. Kedua, bisa tetap dua poros namun dengan komposisi yang berbeda. “Dan sepertinya beberapa partai sedang mempersiapkan diri untuk memilih opsi ini,” ujarnya.

    Adapun sampai saat ini, kedua partai saling melirik siapa cawapres dari masing-masing kubu. Sementara partai-partai dalam koalisi juga masih menunggu keputusan siapa cawapres yang akan dipilih dalam koalisi masing-masing.

    Wakil Sekretaris Jenderal PKB Jazilul Fawaid mengatakan partainya mendorong Jokowi segera mengumumkan cawapres dan mendaftarkan diri sebagai calon presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jazilul membantah bahwa hal tersebut diusulkan agar PKB memiliki waktu untuk mengalihkan dukungan jika Cak Imin tidak dipilih menjadi cawapres Jokowi. Melainkan, kata dia, agar partai-partai pendukung terikat secara administratif.

    Baca: Empat Perbedaan Pertemuan Sekjen Koalisi Jokowi dan Prabowo

    Sementara di kubu Prabowo, PKS dan Gerindra masih bersitegang ihwal kursi cawapres. PKS ngotot agar Prabowo mengakomodir dua calon wakil presiden usulan Ijtima Ulama sebagai wakil Prabowo di pilpres 2019. Adapun dua nama tersebut adalah Ustad Abdul Somad dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

    Kubu Jokowi terdiri dari enam partai yakni, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura. Sementara dari koalisi penantang, Prabowo Subianto mengklaim Partai Gerindra telah berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional.

    Baca: Dukung Jokowi di Pilpres 2019, JK: Masa Teman Tak Didukung


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".