Namanya Tak Disebut di Ijtima Ulama GNPF, Bagaimana Nasib Aher?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan  bersama ribuan

    Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama ribuan "pemuda hijrah" ngabuburit, dengan melakukan konvoi sepeda motor sambil menunggu waktu berbuka puasa, Minggu sore, 3 Juni 2018. (dok Pemprov Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher menuturkan hingga saat ini dirinya masih dalam posisi menunggu terkait isu dirinya yang diusung menjadi calon presiden/calon wakil presiden oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Baca juga: PKS Tawarkan Anies Baswedan - Ahmad Heryawan untuk Pilpres 2019

    "Saya masih dalam posisi menunggu, tentu sisi persaingan terlihat. Sekarang sudah mulai tersisih yang delapan mengarah ke Pak Dr H Salim Segaf Al-Jufri dan mudah-mudahan terus berlangsung begitu sampai akhir, meskipun perubahan ada kemungkinan terjadi. Oleh karena itu saya siap masuk ke kandidat DPR RI atau yang lainnya (pencapresan/cawapres)," kata Aher usai wisuda Program S3 di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad Dipati Ukur Kota Bandung, Selasa, 31 Juli 2018.

    Nama Ahmad Heryawan masuk dalam bursa calon presiden/calon wakil presiden yang ditawarkan PKS ke Prabowo Subianto. Namun dalam ijtima ulama GNPF akhir pekan lalu, namanya tak masuk dalam rekomendasi.

    Ijtima ulama merekomendasikan dua nama sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto yaitu Ketua Dewan Syura PKS Salim Segaf Al Jufri dan pendakwah Abdul Somad.

    Nama calon presiden dan wakil presiden yang bakal diusung baik dari koalisi Jokowi maupun Prabowo akan ketahuan setelah penutupan pendaftaran pada 10 Agustus 2018.

    Aher menuturkan usai tanggal 10 Agustus 2018 akan diketahui keputusan apa yang akan diambilnya apakah tetap ikut serta dalam bursa capres/cawapres atau ikut serta bertarung menjadi calon anggota legislatif untuk DPR RI di Pemilu Legislatif 2019.

    Baca juga: Pilgub Jabar, Ahmad Heryawan Berharap Fenomena 2008 Terulang

    "Saat yang sama ada perbincangan capres-cawapres, mudah-mudahan tanggal 10 Agustus berakhir, saya mau di mana DPR RI atau capres cawapres meskipun saya di survei internal saya menempati urutan ke satu dengan suara terbanyak," kata dia.

    Akan tetapi, menurut dia, adanya komunikasi politik antara partai politik bisa membuat hal tersebut berubah seperti adanya ijtima ulama yang mengusulkan politikus PKS lainnya yakni Salim Segaf Al Jufri sebagai calon wakil presiden untuk mendamping Prabowo di Pilpres 2018.

    "Tentu berikutnya adalah perbincangan politik, ada pihak-pihak terutama pihak koalisi termasuk dengan masyarakat umum atau dalam hal ini disebut keumatan, membuat peristiwa ijtima dan merekomendasikan Pak Salim. Makanya kita tunggu, sampai hari ini tentu pembicaraan terus berlangsung antara parpol koalisi mudah-mudahan ujungnya bagus bisa menghadirkan calon yang bisa jadi pemenang di 2019," kata dia.

    Secara pribadi, kata Aher, pihaknya menghormati keputusan hasil ijtima ulama. "Bagaimana pun juga kita hormati keputusan tersebut tapi akan masih ada pembicaraan yang terus berkembang. Tentu kita seluruhnya menghormati mekanisme partai," kata Aher.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.