PBNU: Islam Nusantara Bersumber dari Al-Quran

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (kanan), menyampaikan pengarahan kepada anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) dalam Apel Kebangsaan dan Kemah Kemanusiaan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, 18 April 2017. Kegiatan ini mengangkat tema Memperteguh Semangat Kebangsaan, Membawa Khazanah Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (kanan), menyampaikan pengarahan kepada anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) dalam Apel Kebangsaan dan Kemah Kemanusiaan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, 18 April 2017. Kegiatan ini mengangkat tema Memperteguh Semangat Kebangsaan, Membawa Khazanah Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zaki Mubarok mengatakan penolakan konsep Islam Nusantara oleh beberapa kelompok termasuk oleh MUI Sumatera Barat disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang terminologi itu. Menurut dia, banyak yang salah paham tentang Islam Nusantara karena penjelasan yang dipotong-potong di Media Sosial.

    Baca juga: MUI: Islam Nusantara Hanya Istilah, Tidak Perlu Dibesar-Besarkan

    “Islam Nusantara Sebenarnya menyimpan kata‘di’ pada istilahnya. Jadi maknanya adalah Islam di Nusantara. intinya sama saja, bersumber Al-quran, Sunah, Ijma Ulama, dan lain sebagainya," kata Zaki Mubarok ketika dihubungi, Jumat, 27 Juli 2018. "Hanya saja adat-adat Indonesia yang sesuai dengan Syariat Islam tetap dipertahankan."

    Pengajar di Universitas Indonesia ini kemudian mencontohkan penerapan Islam nusantara di Indonesia seperti perayaan saat khitanan, tahlilan, dan Halal Bi Halal. Menurut dia, semua adat itu tidak ada di negara lain hanya ada di Indonesia.

    Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan terminologi Islam Nusantara hanya sebuah istilah. "Hal seperti Islam Nusantara, itu masuk dalam kategori cabang agama (furu'iyyah) bukan masalah pokok agama, karena hal itu hanya sebuah istilah bukan pada substansi," kata Zainut, lewat keterangan tertulis, Kamis, 26 Juli 2018.

    Menurut dia, istilah Islam Nusantara sama seperti terminologi Islam berkemajuan yang digunakan oleh Muhammadiyah. MUI pun, kata dia, punya istilah sendiri yaitu Islam Wasathiyah. "Jadi seharusnya hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan dan dipersoalkan karena justru dapat merusak hubungan persaudaraan sesama umat Islam," kata dia.

    Baca: Islam Nusantara atau Bukan, Bicarakan dengan Kepala Dingin

    Sebelumnya, Rapat Koordinasi Daerah MUI Sumatera Barat dan MUI Kabupaten atau Kota Se-Sumatera Barat menyimpulkan menolak konsep Islam Nusantara. MUI Sumbar menyatakan sikapnya menolak konsep Islam Nusantara. Salah satu alasanya adalah karena konsep ini dianggap berpotensi menimbulkan kebingungan, dan penyempitan pemahaman masyarakat terhadap Islam.

    M. Isa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.