Minggu, 22 September 2019

Demokrat: Jokowi dan Megawati Bermain Curang

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY dan beberapa elit Partai Demokrat menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman SBY, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. Tak seperti dalam pertemuan-pertemuan resmi sebelumnya yang bersafari warna krem, kali ini Prabowo tampil kompak bersama SBY dengan mengenakan batik lengan panjang bernuansa coklat. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY dan beberapa elit Partai Demokrat menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman SBY, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. Tak seperti dalam pertemuan-pertemuan resmi sebelumnya yang bersafari warna krem, kali ini Prabowo tampil kompak bersama SBY dengan mengenakan batik lengan panjang bernuansa coklat. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik menuding Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Megawati Soekarnoputri curang. Sebab, kata Rachland, keduanya tidak kunjung mengumumkan cawapres Jokowi. "Bahkan konon akan diumumkan pada menit terakhir pendaftaran," kata Rachland, Kamis, 26 Juli 2018.

    Baca: PDIP: Keluhan Melankolis SBY Soal Megawati Muncul Saat Pemilu

    Rachland mengatakan Demokrat menolak itu. Demokrat, kata Rachland, menginginkan hubungan yang sejajar. Menurut dia, Demokrat bahkan bersedia mengubah arah dukungan jika Jokowi dan PDIP mau meyakinkan mereka.

    Untuk itu, kata Rachland, jika Jokowi menghendaki Demokrat bergabung maka ia harus memberitahukan siapa kandidat cawapres yang akan diusung. Tujuannya, agar Demokrat juga bisa ikut menilai dan menakar kepantasan sang cawapres Jokowi.

    Misalnya, kata Rachland, apakah figur cawapres Jokowi mampu mengisi kekurangan-kekurangan sang presiden dalam bidang pengelolaan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. "Atau kapabilitas dalam bidang-bidang lain yang membuat figur itu pantas," kata Rachland.

    Simak juga: PDIP: SBY Selalu Ragu-ragu, Jangan Salahkan Megawati

    Pernyataan Rachland ini muncul setelah Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengkritik gaya Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hasto mengatakan SBY menjual hubungannya dengan Megawati ketika menjelang pemilu.

    "Keluhan melankolis Pak SBY selalu muncul menjelang pemilu," kata Hasto lewat keterangan tertulis pada Kamis, 26 Juli 2018. “Monggo silahkan lihat dalam jejak digital maupun media cetak, bahwa menjelang Pemilu pasti Pak SBY selalu menyampaikan keluhannya tentang Ibu Megawati."

    Simak: SBY Curhat Hubungannya dengan Megawati

    Hasto pun mengingatkan apa yang terjadi menjelang Pemilihan Presiden atau Pilpres 2004. Kala itu, kata Hasto, SBY dan Demokrat juga menempatkan posisi sebagai korban atau orang yang merasa dizalimi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.