SBY: Lima Kali Bertemu Jokowi, Saya Tak Pernah Tawarkan AHY Cawapres

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (kiri) bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa malam, 24 Juli 2018. Zulkifli tiba sekitar pukul 19.48 WIB di kediaman SBY, Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta. Dok.Istimewa

    Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (kiri) bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa malam, 24 Juli 2018. Zulkifli tiba sekitar pukul 19.48 WIB di kediaman SBY, Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta. Dok.Istimewa

    Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membantah alasannya tidak bergabung ke koalisi pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi karena syarat menjadikan kader Demokrat, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjadi cawapres Jokowi tidak dipenuhi.

    Baca juga: Bertemu SBY, Zulkifli Hasan: Salam Berkah, Sehat Selalu

    "Saya tidak pernah mengajukan cawapres kepada Pak Jokowi, termasuk AHY. Pak Jokowi juga tidak pernah menawarkan. Selama lima kali komunikasi intensif, tidak ada membahas cawapres," ujar SBY di kediamannya, bilangan Mega Kuningan, Jakarta, Rabu malam, 25 Juli 2018.

    Pernyataan tersebut, lanjut SBY, diungkapkan karena mendengar pernyataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Romy yang menyebut bahwa seolah-olah SBY tidak ikut koalisi Jokowi karena syarat cawapres tidak diwadahi. Namun, SBY tidak mendetail kapan dan di mana pernyataan tersebut dikeluarkan. Sementara Romy belum bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi.

    Simak pula: Pertemuan SBY - Prabowo, PKS: Ahlan Wa Sahlan Demokrat

    "Itu salah. Saya harap Bung Rommy harus hati-hati, dan saya harap berhati-hati dalam mengeluarkan statement," kata SBY.

    SBY menegaskan, sudah tertutup jalan bagi Demokrat untuk bergabung ke koalisi pendukung inkumben Presiden Jokowi di Pilpres 2019. SBY mengatakan, banyak hambatan yang membuat Demokrat harus mengambil jalan lain.

    "Sungguhpun saya benar-benar merasakan kesungguhan dan ketulusan Pak Jokowi mengajak Demokrat. Tapi memang tidak terbuka jalan bagi Demokrat bergabung dengan koalisi Jokowi," ujar SBY.

    Menurut SBY, yang menjadi hambatan bukan Jokowi yang akan maju sebagai inkumben, melainkan penerimaan partai koalisi pendukung Jokowi. SBY merasa partainya, sebagai yang belakangan merapat, sulit diterima koalisi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.