Wakapolri Jelaskan Alasan Mengapa Operasi Tinombala Diperpanjang

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga anggota pasukan Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan ikut mengikuti upacara pemberangkatan pasukan Operasi Tinombala di Kantor Polda Sulsel, Makassar, 6 Agustus 2016. Sebanyak 105 porsenil Brimob Polda Sulsel diberangkatkan dalam operasi tinombala di Poso. TEMPO/Fahmi Ali

    Keluarga anggota pasukan Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan ikut mengikuti upacara pemberangkatan pasukan Operasi Tinombala di Kantor Polda Sulsel, Makassar, 6 Agustus 2016. Sebanyak 105 porsenil Brimob Polda Sulsel diberangkatkan dalam operasi tinombala di Poso. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin menjelaskan, operasi Tinombala di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, diperpanjang selama tiga bulan, Juli sampai September 2018. Sebelumnya, operasi Tinombala sudah mengalami perpanjangan selama 100 hari pada April 2018.

    "Memang itu harus diselesaikan, menyelesaikan saja itu dengan perpanjangan. Tapi jumlah pasukan tidak sebesar saat awal," kata Syafruddin di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan, Jumat, 20 Juli 2018.

    Baca: Kapolri Tito Karnavian Pastikan Operasi Tinombala Belum Berakhir

    Syafruddin menjelaskan, ada sejumlah penyesuaian yang dilakukan dalam masa perpanjangan. Dalam perpanjangan operasi ini, kata dia, personel yang dikerahkan adalah anggota kepolisian di wilayah kedaerahan. Jadi bukan personel khusus yang dikirim dari pusat. "Itu hanya pakai personel di wilayah, tapi operasinya tetap," ujarnya.

    Menurut Syafruddin, meski personel dari kepolisian daerah, anggaran untuk biaya operasional dari anggaran pusat.

    Baca: Buru 7 Sisa Anak Buah Santoso, Polri Perpanjang Operasi Tinombala

    "Kalau operasi anggaran rutin itu tidak bisa diharapkan, perlu ada anggaran operasional, jadi istilah saja, bukan penambahan pasukan besar, peralatan besar. Tapi anggaran tetap anggaran dari pusat ke wilayah," ucapnya.

    Operasi Tinombala merupakan operasi gabungan anggota Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memburu teroris di wilayah Indonesia timur. Operasi ini diperpanjang lantaran sejumlah teroris masih belum ditangkap.

    Santoso, salah satu pimpinan teroris, tewas dalam baku tembak dengan satuan tugas Tinombala pada 18 Juli 2016. Setelah kematian Santoso, sejumlah anak buahnya berturut-turut turun gunung. Kekuatan mereka pun diduga semakin lemah. Ada yang menyerahkan diri, ada yang ditangkap karena kelelahan atau tewas.

    Baca: Buru Sisa Teroris Kelompok Santoso, Operasi Tinombala Dilanjutkan

    Ada sejumlah teroris yang diduga masih tersisa. Mereka adalah Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon, Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar, Qatar alias Farel, Nae alias Galuh, Basir alias Romzi, Abu Alim, dan Kholid.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.