KPK: Orang Dekat Bupati Labuhanbatu Harus Menyerahkan Diri Besok

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap berjalan ke luar mengenakan rompi oranye setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 18 Juli 2018. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap modus baru dalam kasus dugaan suap Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap berjalan ke luar mengenakan rompi oranye setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 18 Juli 2018. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap modus baru dalam kasus dugaan suap Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memerintahkan orang dekat Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap, Umar Ritonga, untuk menyerahkan diri paling lambat Sabtu (21/7) besok. "Imbauan ini berlaku hingga Sabtu 21 Juli, jika tidak KPK akan memporses penerbitan DPO kepada yang bersangkutan," kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah, Jumat 20 Juli 2018.

    Baca: Orang Kepercayaan Bupati Labuhanbatu Tabrak Petugas KPK

    Umar memiliki peranan penting dalam rangkain suap yang menyeret Bupati Labuhanbatu. Umar diduga ditugaskan oleh Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap untuk mengambil cek senilai Rp 576 juta dari petugas BPD Sumatera Utara berinisial H. Cek itu berasal dari pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi, Effendy Sahputra.

    Cerita kaburnya orang dekat Bupati Labuhanbatu ini bermula saat tim KPK mencegat Umar Ritonga yang baru saja mengambil uang dari bank pada Selasa (17/7). Duit ini diduga merupakan suap untuk Bupati Labuhanbatu.

    Baca juga: Berusaha Kelabui KPK, Bupati Labuhanbatu Pakai Modus Suap Baru

    Wakil Pimpinan KPK, Saut Situmorang sebelumnya mengatakan awalnya tim KPK berusaha menghadang mobil yang dikemudikan Umar di depan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Tapi saat tim KPK menunjukan tanda pengenal, Umar melawan. "Dia hampir menabrak petugas," kata Saut, Rabu, 18 Juli 2018.

    Lolos dari hadangan, Umar kabur membawa uang Rp 500 juta. Tim KPK mengejar. Kondisi kala itu di Labuhanbatu sedang hujan.

    Saut mengatakan Umar sempat berpindah dari satu titik ke titik lain. Sampai di pinggiran kebun sawit, Umar keluar dari mobil dan mulai berlari. Dia berlari sampai ke daerah rawa di sekitar perkebunan. Tim KPK memutuskan menghentikan pengejaran dan memburu terduga lainnya. "Tim memutuskan mencari pihak lain yang juga perlu diamankan," kata dia.

    Simak: Suap Bupati Labuhanbatu, Pakai Modus Titip Uang dan Kode Proyek

    Dalam perkara ini KPK menetapkan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap dan orang kepercayaannya Umar sebagai penerima suap. Saat ini KPK masih memburu Umar. Sementara, pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.