Blak-blakan Eni Saragih Soal Kedekatannya dengan Johannes Kotjo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Saragih berusaha menghindari awak media saat bersiap meninggalkan gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan pada Sabtu malam, 14 Juli 2018. Sebelumnya, KPK menangkap sembilan orang, terdiri atas anggota DPR, staf ahli, sopir, dan pihak swasta dalam OTT di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham pada Jumat, 13 Juli 2018. ANTARA.

    Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Saragih berusaha menghindari awak media saat bersiap meninggalkan gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan pada Sabtu malam, 14 Juli 2018. Sebelumnya, KPK menangkap sembilan orang, terdiri atas anggota DPR, staf ahli, sopir, dan pihak swasta dalam OTT di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham pada Jumat, 13 Juli 2018. ANTARA.

    TEMPO.CO, Jakarta - Tersangka dugaan suap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) I Riau, Eni Maulani Saragih atau Eni Saragih, buka-bukaan soal perkara yang menjeratnya. Lewat surat dua halaman yang ia titipkan kepada keluarganya, Wakil Ketua Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat ini mengakui kedekatannya dengan bos Apac Group Johannes Budisutrisno Kotjo.

    Baca juga: Eni Saragih Pegiat Banyak Organisasi Sayap Partai Golkar

    Eni Saragih mengatakan salah satu kesalahannya adalah menganggap Kotjo sebagai teman satu timnya. "Saya menganggap Pak Kotjo sebagai teman, satu tim, bukan orang lain, sehingga kalau ada kebutuhan yang mendesak saya menghubungi beliau," tulis dia dalam surat dua halaman yang diperoleh Tempo, Senin, 16 Juli 2018.

    Lantaran menganggap Kotjo sebagai teman, Eni Saragih kerap meminta bantuan Kotjo kala ada kebutuhan mendesak, seperti menjadi sponsor kegiatan organisasi, kegiatan umat, hingga membantu kebutuhan pribadi Eni. "Pak Kotjo pun membantu karena mungkin beliau beranggapan yang sama kepada saya."

    Dalam surat tersebut pun Eni mengakui telah membantu proyek PLTU Riau I. Menurut dia, apa yang ia lakukan adalah untuk membantu proyek investasi itu agar berjalan lancar. Sebab, itu bukanlah proyek yang masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

    Baca juga: Begini Kedekatan Eni Saragih dengan Menteri Sosial Idrus Marham

    Lebih lanjut, Eni Saragih mengatakan mau membantu proyek itu lantaran mengetahui semangat Kotjo dan Direktur Utama PLN Sofyan Basyir adalah untuk negara. "Semua dipres, ditekan agar hasil jualnya ke PLN menjadi murah dengan begitu listrik buat rakyat pun menjadi murah," tulis Eni.

    KPK menangkap Eni Saragih pada Jumat, 13 Juli 2018 di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham. Hari itu, KPK menggelar serangkaian operasi penangkapan yang berujung kepada Eni Saragih. Salah satu yang dicokok adalah staf Eni.

    KPK menyita uang Rp 500 juta untuk Eni Saragih yang merupakan Politikus Golkar. Uang tersebut diduga berasal dari bos Apac Group Johannes Budisutrisno Kotjo.

    Baca juga: Eksklusif Eni Saragih: Saya Pikir Rezeki dari Swasta itu Halal

    KPK menduga sogokan ini untuk memuluskan penandatanganan kerjasama pembangunan PLTU Riau-1. KPK menduga uang Rp 500 juta adalah bagian dari komitmen fee sebanyak 2,5 persen dari total nilai proyek. Total jenderal, Eni Saragih bakal menerima Rp 4,8 miliar. KPK telah menetapkan Eni Saragih dan Johannes sebagai tersangka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.