Jumat, 19 Oktober 2018

Mahfud MD dan Ma'ruf Amin Dinilai Cocok Jadi Cawapres Jokowi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pakar hukum tata negara, Mahfud Md, saat hadir dalam rapat dengar pendapat bersama Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Jakarta, 18 Juli 2017. Mahfud Md menyarankan KPK untuk langsung menahan Setya Novanto. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    Pakar hukum tata negara, Mahfud Md, saat hadir dalam rapat dengar pendapat bersama Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Jakarta, 18 Juli 2017. Mahfud Md menyarankan KPK untuk langsung menahan Setya Novanto. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai sosok mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin adalah yang paling cocok untuk dipilih Joko Widodo atau Jokowi sebagai calon wakil presiden 2019 (cawapres Jokowi).

    "Sosok ulama, santri, dan tokoh umat merupakan calon wakil presiden paling tepat dipilih Jokowi untuk menetralisir sentimen politik entitas agama dan etnis yang menguat belakangan," ujar Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu kepada Tempo, Sabtu malam, 14 Juli 2018.

    Baca: Reaksi PKB Soal Mahfud MD Jadi Kandidat Cawapres Jokowi

    Menurut Pangi, keduanya juga merupakan tokoh non-partai yang memiliki kapasitas memimpin dan juga berpeluang dari sisi elektabiltas. Tingkat penerimaan parpol koalisi juga diprediksi lebih bagus. Jika tidak ada satu pun kader atau ketua umum partai yang dipilih, memilih cawapres Jokowi dari nonpartai akan adil bagi para pengusungnya.

    "Jokowi tidak perlu perang urat saraf dengan ketua umum parpol pengusung yang terkesan memaksakan kadernya menjadi cawapres pendamping Jokowi," kata Pangi. Cara seperti itu disebut Pangi sebagai strategi politik bumi hangus.

    Ketua Umum Majelis Ulama Indonesi KH Maruf Amin di sela Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Majelis Rasulullah SAW di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat, 1 Desember 2017. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Pangi menyebut, ada beberapa kriteria yang penting sebagai pertimbangan dalam memilih cawapres. Pertama, harus disukai masyarakat dan figur yang bisa diterima koalisi pendukung. Kedua, memiliki modal racikan elektoral. Ketiga, memiliki chemestry (nuansa kebatinan) antara capres dan cawapres. Keempat, mendapat restu ketua umum Parpol pengusung utama Jokowi.

    Baca: Mahfud MD Sebut Nama Cawapres Jokowi Mulai Mengerucut

    "Meski Jokowi tidak lagi bicara setelah 2024, logika PDIP sebagai pengusung utama berbeda. Dia harus memikirkan 2024," ujar Pangi. "Bahaya memberi karpet merah pada kader partai lain, wapres bisa curi start".

    Terakhir, lanjut dia, memilih figur yang memiliki ceruk pemilih berbeda. Kombinasi ideal untuk Jokowi dinilai adalah nasionalis-religius. "Jadi cawapres Jokowi tidak perlu dipaksakan ahli di bidang ekonomi, hukum dan politik. Nanti sudah cukup diperkuat menteri koordinator," ujar dia.

    Menurut Pangi, dari nama-nama cawapres yang santer beredar, Mahfud MD dan Ma'ruf Amin paling mendekati lima kriteria tersebut. Dari sisi kapasitas memimpin, ujar dia, secara integritas sudah teruji, memiliki track record yang bagus, secara pengalaman juga cukup komplit dengan pernah jadi Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur, anggota DPR dan juga pernah menjadi ketua Mahkamah Konstitusi. "Disamping itu, Mahfud punya modal suara akar rumput sebagai representasi santri dan NU," ujar dia.

    Baca: Muhaimin Iskandar Salah Satu dari Lima Bakal Cawapres Jokowi

    Sementara itu, lanjut Pangi, Ma'ruf Amin juga punya peluang yang sama. Dia terkenal sebagai sosok yang mengayomi dan menyejukkan politik kebangsaan. "Sosok figur Ma'ruf Amin dibutuhkan Jokowi dalam maintenance problem keumatan. Kalau tidak terjadi split ticket voting maka grassroot NU dan PKB besar kemungkinan bulat memilih Ma'ruf," ujar Pangi.

    Pangi menambahkan, Ma'ruf Amin sebagai tokoh senior dari segi umur, karirnya kira-kira habis di tahun 2024, dianggap tidak bisa curi start atau tidak membahayakan PDIP di 2024. "Dari segi kalkulasi ini, Ma'ruf Amin lebih mudah mendapatkan restu dari parpol koalisi pendukung utama dalam hal ini Megawati dan PDIP, restu Megawati determinan menentukan siapa cawapres Jokowi," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.