Jumat, 21 September 2018

SBY Sampaikan Tiga Opsi Partai Demokrat dalam Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama pengurus DPP Partai Demokrat menggelar konferensi pers di Wisma Proklamasi, Jakarta, 30 Oktober 2017. SBY menyebut finalisasi usulan Partai Demokrat atas revisi UU Ormas sudah mencapai angka 90 persen. Tempo/ Fakhri Hermansyah

    Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama pengurus DPP Partai Demokrat menggelar konferensi pers di Wisma Proklamasi, Jakarta, 30 Oktober 2017. SBY menyebut finalisasi usulan Partai Demokrat atas revisi UU Ormas sudah mencapai angka 90 persen. Tempo/ Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis tinggi Partai Demokrat telah mengadakan sidang perdana pada Senin, 9 Juli 2018 untuk menentukan sikap partai pada pilpres 2019. Hasilnya, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, Partai Demokrat bersedia mengusung Joko Widodo atau Prabowo Subianto jika poros ketiga gagal dibentuk.

    Kesepakatan itu tertuang dalam tiga opsi yang diputuskan oleh peserta majelis tinggi. Hasil sidang dibacakan SBY dalam video berdurasi 13.58 menit yang diterima Tempo pada Kamis, 12 Juli 2018.

    Baca: Jelang Pilpres 2019, Demokrat: Kami Tidak akan Netral

    Dalam video tersebut, SBY menyampaikan bahwa opsi pertama adalah mengusung Jokowi dan opsi kedua yaitu mengusung Pak Prabowo. "Opsi ketiga, apabila poros ketiga bisa kami bentuk, Demokrat akan mengusung calon presiden lain, selain Pak Jokowi dan Pak Prabowo," kata SBY.

    Saat ini, tepat sebulan menjelang batas akhir pendaftaran capres dan cawapres pada 10 Agustus 2018, Partai Demokrat memang masih mengkaji pasangan yang akan diusung. Sejumlah politikus Demokrat mengungkapkan adanya keinginan mengusung kandidat alternatif, salah satunya putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

    Baca: Kata Airlangga Hartarto Soal Pertemuannya dengan SBY

    Meski sudah ada dua kubu yang dinilai kuat, Demokrat yakin poros ketiga akan terbentuk untuk menghadapi Pilpres 2019 seiring perpecahan di kubu-kubu yang sudah ada. “Koalisi berpotensi pecah jika ada perbedaan pendapat ihwal figur calon wakil presiden, baik di kubu Jokowi atau Prabowo,” kata Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean pada Ahad, 1 Juli 2019.

    SBY mengatakan partainya telah aktif menjalin komunikasi politik, baik dengan pasangan capres cawapres potensial maupun partai lain yang bisa diajak berkoalisi. Dengan Jokowi, SBY mengaku telah beberapa kali bertemu langsung. Tapi dengan Prabowo, komunikasi baru dilakukan oleh Demokrat saja. "Saya belum bertemu langsung dengan Pak Prabowo," ujarnya.

    Tiga opsi inilah yang akan dibahas kembali dan ditetapkan oleh Majelis Tinggi dalam empat minggu ke depan atau hingga pekan kedua Agustus 2018. Jika toh nantinya Demokrat mengusung Jokowi atau Prabowo, menurut SBY tidak berlebihan jika wakil bisa berasal dari partainya. "Meskipun ini bukan harga mati," kata SBY.

    Baca: SBY Nilai Cawapres Jokowi dan Prabowo akan Ubah Kondisi Politik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.