Selasa, 25 September 2018

Kepada JK, Guru Mengeluh Banyak Ancaman di Tahun Politik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pidato dalam acara halalbihalal di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, 4 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pidato dalam acara halalbihalal di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, 4 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mendapat keluhan dari seorang anggota PGRI Sulawesi Selatan, Wasir Talib, saat menghadiri diskusi publik bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Keluhan itu terkait ancaman terhadap guru di tahun politik.

    Wasir mengatakan, guru selalu dijadikan komoditas politik. "Diancam mutasi kemana-mana kalau tidak memilih calon tertentu," katanya di Gedung Guru Indonesia, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

    Baca juga:  Penjelasan Yayasan Soal Guru Dipecat karena Pilih Ridwan Kamil

    Menanggapi itu, Jusuf Kalla mengaku sering mendengar keluhan serupa. Dia mengatakan, guru menjadi sasaran karena jumlahnya yang banyak. Belum lagi jika ditambah dengan keluarga mereka.

    Oknum yang mengancam biasanya, kata dia, adalah calon inkumben. "Yang tidak incumbent tidak mengancam karena tidak ada aparatnya," ujar dia.

    Namun guru tak hanya dimanfaatkan karena jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah banyaknya guru yang bersedia jadi tim sukses pasangan tertentu.

    Baca juga: Penjelasan Yayasan Soal Guru Dipecat karena Pilih Ridwan Kamil

    "Jadi jangan menjadi tim sukses begitu. Kita harus sepakat netral, jangan jadi tim sukses sehingga tidak ada lagi yang dapat begitu (ancaman)," ujar JK.

    JK berpesan agar guru tidak memihak pasangan tertentu. Dia tak melarang jika setiap individu memiliki pilihan pribadi. Namun alangkah baiknya, menurut dia, jika guru tidak serta merta masuk ke tim sukses calon tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Haringga Sirla, Korban Ketujuh Ricuh Suporter Persib dan Pesija

    Haringga Sirla menjadi korban ketujuh dari perseteruan suporter Persib versus Persija sepanjang 2012 sampai 2018.