Minggu, 22 September 2019

Cawapres Jokowi, Pengamat: Peluang Kandidat Non Partai Tinggi

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SMRC menyatakan Joko Widodo mendapat skor paling tinggi dalam survei kriteria kualitas personal, Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018.

    SMRC menyatakan Joko Widodo mendapat skor paling tinggi dalam survei kriteria kualitas personal, Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018.

    TEMPO.Pengamat politik Saiful Mujani Research Center (SMRC), Djayadi Hanan berpendapat calon presiden Joko Widodo akan lebih memilih calon wakil presiden atau cawapres dari kalangan non partai. "Kemungkinan cawapres Jokowi di luar orang partai lebih besar," kata Djayadi saat dihubungi, Selasa 10 Juli 2018.

    Menurut Djayadi, kemungkinan itu untuk menghindari kecemburuan bagi partai koalisi jika Jokowi memilih cawapres dari partai. Saat ini Jokowi diusung lima partai koalisi yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Golkar, Hanura, Nasdem dan PPP.

    Baca:
    Megawati: Cawapres Jokowi Diumumkan saat ...
    Juru Bicara: Partai Koalisi Sepakat Anies ...

    Jika Jokowi memilih Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang sudah membentuk gerakan Golkar Jokowi (Gojo), misalnya, akan menimbulkan kecemburuan terutama partai Islam seperti PPP dan PKB yang menyodorkan Muahaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai cawapres. Atau sebaliknya, Jokowi memilih ketua umum PPP Romahurmuziy atau Cak Imin hal ini juga akan memicu kecemburuan khususnya Golkar sebagai partai dengan suara terbesar dalam koalisi.

    Djayadi menyebutkan kriteria lain yang menjadi pertimbangan Jokowi adalah kombinasi capres-cawapres antara nasionalis dan relegius. "Karena bagaimana pun, suara-suara dari kalangan keumatan dan santri sangat menentukan."

    Menurut Djayadi cawapres dari non partai menjadi pilihan yang tepat bagi Jokowi untuk menjaga kesolidan partai koalisi. Agar tidak ada keinginan partai yang tidak terpenuhi. Maka, Jokowi harus memperhatikan aksebilitas cawapres dari non partai supaya diterima oleh partai pendukung. "Jika nanti cawapres Jokowi orang non partai, maka aksebilitasnya harus tinggi."

    Baca:
    Partai Demokrat: AHY Layak untuk Cawapres ...
    PKS Soal Kalkulasi Tukar Posisi Cawapres ...

    Joko Widodo mengaku telah mengantongi nama cawapres yang akan mendampinginya dalam pemilihan presiden atau pilpres 2019. Setelah menggelar pertemuan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Batu Tulis pada Ahad malam, 8 Juli 2018.

    Megawati mengatakan pengumuman nama cawapres Jokowi untuk Pilpres 2019 menunggu waktu yang tepat. “Pengumuman dilakukan pada momentum tepat, dan dalam cuaca yang cerah, secerah ketika matahari terbit dari timur. Jadi tunggu saja dan sabar."

    Menurut Romahurmuziy, nama cawapres Jokowi yang sudah mengerucut itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. "Ada politisi, cendekiawan, purnawirawan TNI-Polri, kalangan teknokrat, dan profesional."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.