Jokowi dan Megawati Semakin Intens Bertemu

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertemuan tiga jam Presiden Jokowi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Istana Batutulis Bogor, Minggu 22 Oktober 2017.  Istimewa

    Pertemuan tiga jam Presiden Jokowi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Istana Batutulis Bogor, Minggu 22 Oktober 2017. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertemuan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin intens menjelang pendaftaran pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Kemarin, Ahad malam, 8 Juli 2018, keduanya kembali bertemu di Istana Batu Tulis, Bogor selama satu jam 50 menit.

    Baca: Cawapres Jokowi, Puan Maharani: Dibahasnya Sama Ibu Megawati

    Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengatakan Megawati dan Jokowi membahas banyak hal. “Beberapa hal strategis dibahas terkait hasil kunjungan Presiden Bank Dunia, Persiapan Asian Games, berbagai agenda strategis bangsa dan negara, termasuk pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden," katanya melalui keterangan tertulis, Senin, 9 Juli 2018.

    Megawati dan Jokowi pernah bertemu sekitar sebulan lalu di tempat yang sama, tepatnya pada 12 Juni 2018. Keduanya saat itu bertemu selama dua jam 10 menit sambil berbuka puasa bersama.

    Saat membahas soal pendamping Jokowi, Megawati sempat memberikan masukan agar penetapan cawapres dilakukan dengan pertimbangan matang karena mereka akan menjadi pemimpin bangsa. Jokowi juga diminta terus melakukan kontemplasi agar benar-benar memahami aspirasi rakyat Indonesia sambil memohon petunjuk dari Tuhan.

    Hasto menuturkan, pertemuan di Batu Tulis menepis anggapan dari berbagai pengamat politik yang mencoba membuat jarak, bahkan memisahkan antara Jokowi, Megawati, dan PDI Perjuangan. Dia menyebut kepemimpinan Megawati dan Jokowi saling melengkapi dan satu kesatuan.

    Baca: Megawati Belum Diperiksa dalam Kasus BLBI, Ini Alasan KPK

    Menurut dia, Megawati sangat kokoh dalam prinsip, dan berpolitik dengan keyakinan untuk rakyat. Sementara Jokowi memiliki kemampuan teknokratis serta model kepemimpinan yang membangun dialog, merangkul, dan terus membumikan Pancasila dalam tradisi kepemimpinan yang turun ke bawah, atau merakyat.

    "Kedua pemimpin bangsa tersebut, dengan demikian, saling melengkapi, bersinergi, dan disatukan oleh emotional bonding (ikatan emosional) dengan Bung Karno, Proklamator dan Bapak Bangsa Indonesia," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.