JK dan Presiden World Bank akan Tinjau Stunting di Lombok

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama istri, Mufidah Jusuf Kalla mengecek kondisi anak stunting dalam kunjungannya ke Posyandu Permata Bunda Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, 12 Maret 2018. Tempo / Friski Riana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama istri, Mufidah Jusuf Kalla mengecek kondisi anak stunting dalam kunjungannya ke Posyandu Permata Bunda Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, 12 Maret 2018. Tempo / Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK bertolak ke Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis pagi, 5 Juli 2018. JK berkunjung ke sana bersama Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, untuk melihat berbagai program pencegahan stunting (kekerdilan anak) dan upaya konvergensi pada tingkat desa.

    Setibanya di Lombok, JK akan disambut oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi dan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat. JK akan melakukan kunjungan kerja ke lokasi pertama di Desa Dakung, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, untuk menghadiri Forum Pertemuan Desa Untuk Pencegahan Stunting.

    Baca: Lawan Stunting, Jokowi dan Presiden Bank Dunia Blusukan di Bogor

    Di sana, JK akan menerima laporan Ketua Kelompok Kerja Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Elan Satriawan dan akan didampingi oleh Program Leader for Human Development World Bank Indonesia, Camilla Raad Holmemo, untuk progres penanganannya.

    Selanjutnya, JK akan meninjau pos kesehatan desa dan berdialog dengan masyarakat yang hadir. JK juga diagendakan melihat langsung Posyandu Terintegrasi TK dan Kegiatan Penerima Manfaat Keluarga Harapan (PKH). Usai peninjauan, JK kembali ke Jakarta pada siang di hari yang sama.

    Baca: Stunting Indonesia Urutan 4 Dunia, Jangan Bangga Bila Kerdil

    Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menangani masalah anak kerdil. Faktanya, berdasarkan Riset Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2013, di Indonesia ada sekitar 37 persen atau kurang lebih 9 juta anak balita mengalami masalah stunting. “Ini membahayakan jangka panjang. Di samping berakibat pada bangsa secara keseluruhan, berakibat untuk ibu-ibu,” kata JK.

    Saat ini, menurut JK, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Prevalensi stunting di Indonesia masuk dalam kelompok tinggi bersama negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Jika tidak segera diatasi, kinerja pembangunan Indonesia akan terpengaruh. “Karena itulah, maka akan merusak produktivitas, merusak ekonomi masa depan,” kata dia.

    Dalam kunjungannya, JK didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadi Muljono, dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo.

    Baca: Tafsir Politik Keakraban JK dan Anies Baswedan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.