Minggu, 22 September 2019

Kapolri Tito Sesalkan Insiden Penembakan di Papua

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) sedang berjalan menuju helikopter usai meninjau rest area di kilometer 573 jalan tol ruas Ngawi - Solo, Ahad, 10 Juni 2018. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) sedang berjalan menuju helikopter usai meninjau rest area di kilometer 573 jalan tol ruas Ngawi - Solo, Ahad, 10 Juni 2018. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian menyayangkan serangkaian insiden yang terjadi di Papua menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Meski sempat membuat Pilkada di Nduga, Papua tertunda, Tito mengaku lega dengan akhirnya Pilkada yang terlaksana dengan baik.

    Polri, kata Tito, melakukan upaya penambahan pasukan sesaat setelah terjadi penyerangan di Nduga. "Maka kami sudah lakukan untuk menambah pasukan, dan karena jalur udara agak sulit, kami gunakan jalur laut," kata Tito di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin, 2 Juli 2018.

    Baca juga: Seorang Polisi yang Hilang di Papua Ditemukan Tewas

    Usai dilakukan penambahan personel, kata Tito, pilkada di Nduga berhasil diselenggarakan pada 29 Juni 2018. Pelaksanaan Pilkada tersebut dilapisi pengamanan tambahan dari Polri. "Alhamdulililah semua proses pilkada di Nduga sudah selesai 100 persen," kata dia.

    Tito sendiri sudah berkunjung ke Papua bersama Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto pada 1 Juli 2018 guna memantau perkembangan situasi di Papua. Ia memastikan, proses demokrasi di Papua harus berjalan, dan Polri bersama TNI siap mengamankan.

    Sebelumnya, rangkaian penyerangan di sekitar penyelenggaraan Pilkada Serentak 2018 ini disebut sengaja dilakukan untuk menunjukkan eksistensi kelompok bersenjata tersebut. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan, kelompok tersebut sengaja melakukan aksi untuk mengacaukan pelaksanaan Pilkada di Papua.

    "Artinya mereka memanfaatkan momen ini untuk mengganggu dan menunjukan eksistensi mereka. Semua tahu orang sibuk dengan pilkada, maka mereka melakukan kegiatan agar mereka dikenal dan eksis," ujar Setyo.

    Saat ini, aparat gabungan TNI-Polri masih melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata tersebut. Jumlah personel keamanan juga terus ditambah.

    Baca juga: KPU Belum Bisa Pastikan Pilkada Susulan di Papua

    Sebelum Pilkada, kelompok bersenjata melakukan penembakan terhadap pesawat Trigana Air di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua pada 25 Juni 2018. Pesawat tersebut mengangkut logistik Pilkada dan 15 personel Brimob Polri.

    Dalam peristiwa tersebut, kelompok tersebut menembaki warga di sekitar Bandara Kenyam dan menewaskan tiga warga sipil serta satu anak terluka. Aksi tersebut telah mengakibatkan ditundanya pelaksanaan pemungutan suara di Kabupaten Nduga.

    Sebelumnya, penembakan dikabarkan kembali terjadi di sekitar Bandara Nduga, Papua, Rabu 27 Juni 2018. Kelompok bersenjata melakukan penembakan tak terarah. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. Masih di hari yang sama, kelompok bersenjata menembaki warga dan aparat di Distrik Torere, Kabupaten Puncak Jaya. Satu anggota Polri dan kepala distrik yang membawa surat suara tewas ditembak. Satu lainnya masih dalam pencarian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.