Terus Mengalir di Tanah yang Sulit Air

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kisah kesulitan air yang dialami warga Desa Pucung mulai menemukan titik cerah ketika padatahun 2001, setelah salah seorang anggota pencinta alam KMP Giri Bahama, Universitas Muhammadiyah Solo, Joko Sulistyo menemukan sebuah sungai di salah satu gua vertikal yang ia jelajahi. (Foto: dok. Astra)

    Kisah kesulitan air yang dialami warga Desa Pucung mulai menemukan titik cerah ketika padatahun 2001, setelah salah seorang anggota pencinta alam KMP Giri Bahama, Universitas Muhammadiyah Solo, Joko Sulistyo menemukan sebuah sungai di salah satu gua vertikal yang ia jelajahi. (Foto: dok. Astra)

    Batuan Karst dan tanah kapur merupakan bagian dari kondisi geografis di wilayah Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Keadaan ini semakin diperparah dengan sulitnya mencari sumber air yang layak pakai bagi warga setempat. Hal ini kurang menguntungkan bagi segenap warga yang harus berjalan beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan 10-20 liter air. Walaupun debit airnya tergolong rendah, namun sumber air ini merupakan satu-satunya sumber yang paling dekat dengan pemukiman warga.

    Kisah kesulitan air yang dialami warga Desa Pucung pun mulai menemukan titik cerah ketika pada tahun 2001, seorang anggota pencinta alam KMP Giri Bahama, Universitas Muhammadiyah Solo menemukan sebuah sungai di salah satu gua vertikal yang ia jelajahi. Nama pemuda tersebut adalah Joko Sulistyo, mahasiswa Fakultas Geografi yang menjadi salah satu penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2013. Setelah menemukan sungai di kedalaman gua tersebut, Joko merasa keberadaan sungai tersebut akan sangat membantu kesulitan air warga dengan menjadi sumber mata air tambahan.

    Akhirnya, bersama warga dan rekan-rekannya dari pencinta alam, Joko pun mulai memikirkan bagaimana cara mengangkat air sungai di kedalaman gua Suruh yang ia temukan untuk mendekat hingga pemukiman warga. Walaupun pada awalnya tidak ada warga desa yang berani untuk memasuki Gua Suruh, namun setelah beberapa kali diadakan penjelasan tentang pentingnya keberadaan sungai ini warga pun paham dan rela ikut bergotong-royong.

    Warga menyumbang tenaga, pemerintah desa mengusahakan dana dari APBD, Joko dan rekan-rekannya sesama pencinta alam menyumbangkan keahlian, pemikiran dan waktu untuk mewujudkan proyek itu. Gayung bersambut, setelah donasi dari beberapa donatur terkumpul, hasil jerih payah mengalirkan air dari bawah gua hingga menuju desa pun terwujud. Air kini dapat didorong ke atas, ditampung di beberapa menara air di atas bukit, dan warga desa dapat mengambil air dari bak penampungan kapan saja mereka butuhkan.

    Kisah menarik dari para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards lainnya dapat Anda ikuti di website www.satu-indonesia.com.

    BAYU SATITO / TIM INFO TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.