Selasa, 17 September 2019

Gerindra Sebut Survei Pemilu adalah Kampanye Terselubung

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto dalam acara Halal Bi Halal dengan kader Partai Gerindra di Palembang, Kamis, 21 Juni 2018. TEMPO/Ahmad Supardi

    Prabowo Subianto dalam acara Halal Bi Halal dengan kader Partai Gerindra di Palembang, Kamis, 21 Juni 2018. TEMPO/Ahmad Supardi

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menuding survei elektabilitas dalam pemilihan umum (Pemilu) merupakan kampanye terselubung. Ia menilai hasil survei menghakimi tingkat elektabilitas seorang calon sebelum pemilihan sebenarnya berlangsung.

    "Menurut saya ini mengganggu kebebasan rakyat untuk menentukan pilihannya dan bagian dari kampanye terselubung," kata Muzani di rumah dinasnya, Kemang, Jakarta Selatan pada Ahad, 1 Juli 2018.

    Baca: Sebut Survei Pilkada Keliru, Gerindra Makin Yakin Usung Prabowo

    Muzani mengatakan penghakiman lembaga survei dialami calon yang mereka dukung di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Semua lembaga survei, kata dia, menyebut elektabilitas pasangan calon gubbernur yang diusung Gerindra di Jawa Tengah, Sudirman Said-Ida Fauziyah hanya sekitar 12 persen. Namun hasil hitung cepat atau quick count menunjukan pasangan ini mendapatkan suara yang jauh melebihi hasil survei. "Yang terjadi Dirman Said mencapai 40 persen lebih," kata Muzani.

    Hal yang sama terjadi di Pilgub Jawa Barat. Pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu, kata Muzani, diprediksi bakal mendapatkan suara nomor dua paling bawah. Tapi, hasil quick count menempatkan pasangan ini di posisi kedua perolehan suara terbanyak.

    Baca: Diajak Gerindra Berkoalisi, Demokrat Pertimbangkan Hal Ini

    Melihat dua hasil survei itu, Muzani mengaku bingung. Ia mempertanyakan bagaimana hasil survei bisa beda jauh dari quick count sementara survei dilakukan beberapa hari menjelang Pilkada. Lembaga survei juga mengklaim tingkat kesalahan dalam surveinya hanya 2 persen. "Sekarang saat sudah terjadi seperti ini, lembaga survei ngelesnya itu karena mesin partainya bergerak, ini kan enggak ada pertanggungjawaban ilmiahnya," kata dia.

    Menurut Muzani, hasil survei itu laiknya menghukum dan meneror partai pendukung, calon peserta dan calon pemilih. Menurut dia, hal itu mengganggu kebebasan rakyat memilih dan bagian dari kampanye terselubung. "Maka itu, kami merasa diatur, dibingkai, diteror, termasuk dihukum, '(elektabilitas) lu hanya sekian persen," ujarnya.

    Baca: Gerindra Tutup Peluang Usung Amien Rais Jadi Capres


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.