Jumat, 19 Oktober 2018

Usai Pilkada, Akun Telegram Programmer dan Ahli IT KPU Diretas

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi hacker. crashonline.gr

    ilustrasi hacker. crashonline.gr

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah programmer dan ahli informasi dan teknologi (IT) Komisi Pemilihan Umum (KPU) diteror oleh nomor asing yang tidak dikenal usai pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang digelar kemarin, Rabu, 27 Juni 2018.

    Salah satunya dialami programmer KPU, Harry Sufehmi. Berdasarkan screenshot dari telepon genggam yang dikirimkan Harry kepada Tempo, ada belasan nomor dengan kode luar negeri yang meneror dirinya dan rekan-rekan programmer dan IT KPU sejak Rabu malam. "Kami dapat miscall sampai ratusan kali per jam. Handphone saya sampai panas sekali dan harus di non-aktifkan," kata Harry saat dihubungi Tempo pada Kamis, 28 Juni 2018.

    Baca: Pilkada 2018 Susulan di Papua, Mabes Polri: Tunggu Kondusif

    Adapun Harry bertanggungjawab pada sistem IT untuk pemilihan presiden (pilpres) 2019. Namun menurut dia, hal yang sama juga dialami programmer dan ahli IT Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) yang menangani sistem IT pilkada 2018.

    Selain itu, kata Harry, orang tak dikenal tersebut juga berusaha meretas akun Whatsapp dan Telegram miliknya. Salah satu server yang diduga berasal dari Singapura, bahkan sempat membobol Telegram milik Harry sebelum akhirnya jaringannya diputus. "Kami mensinyalir ada upaya mengganggu dan memutuskan komunikasi," ujarnya.

    Baca: Rekapitulasi Hasil Quick Count Pilkada 2018 di Pulau Jawa

    Menurut Harry, inti masalah dalam kasus ini adalah SMS peneror tersebut di luar jangkauan KPU. "Sistem SMS (protokol SS7) bisa di-hack. Akibatnya, semua yang terkait SMS (Facebook, WhatsApp, Telegram dan lain-lain) jadi bisa kena hack via kode rahasia yang dikirim via SMS," ujarnya.

    Dalam kasus ini, Harry mengatakan pihaknya dalam proses membuat laporan ke Mabes Polri. Namun ia memprediksi penyelidikan akan sangat sulit dilakukan. "Sebab, proses hacking-nya dilakukan via luar negeri yang melibatkan server di Singapura, Amerika, dan negara lainnya," ujarnya.

    Baca: Pilkada 2018, Cerita Pemilih Tunanetra dari Bilik Suara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jamal Khashoggi Diduga Dijagal di Kediaman Konjen Arab Saudi

    Jamal Khashoggi mendatangi Konsulat Jenderal Arab Saudi namun tak pernah keluar lagi. Ada dugaan ia dijagal usai dibawa ke kediaman konsul jenderal.