Kata Prabowo yang Kasihan kepada Bung Karno

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat jadi juru kampanye pasangan calon gubernur Sudrajat-Syaikhu di Monumen Perjuangan Rakyat di Bandung, 12 Mei 2018. Prabowo berorasi selama hampir satu jam. TEMPO/Prima Mulia

    Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat jadi juru kampanye pasangan calon gubernur Sudrajat-Syaikhu di Monumen Perjuangan Rakyat di Bandung, 12 Mei 2018. Prabowo berorasi selama hampir satu jam. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Semarang - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan ia merasa kasihan kepada Bung Karno. Menurut Prabowo ia kasihan karena Bung Karno hanya dijadikan ikon, tapi tak dimaknai dengan baik soal ideologi yang dilahirkannya.

    "Padahal Bung Karno adalah orang yang marhaenis. Bersama Bung Hatta membela rakyat. Ada Wahid Hasyim, Agus Salim, yang semua berjuang, yang ikut merumuskan UUD 45 sebagai letak bernegara dan berbangsa. Kalau lupa kaidah, jangan sampai mengalami kesulitan. Dasar filosofi negara adalah Pancasila," kata Prabowo di PRPP Semarang, Sabtu 23 Juni 2018.

    Baca juga: Buka Penggalangan Dana, Gerindra Bantah Prabowo Kehabisan Uang

    Ketidakberpihakan para elite politik kepada rakyat kecil, menurut Prabowo, terlihat saat mereka bungkam saat kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Prabowo mengatakan banyak elite politik yang mengabaikan nasib rakyat kecil.

    Prabowo kemudian membuka data tentang kondisi kemiskinan di Indonesia, salah satunya data Credit Suisse Global Wealth Report 2016 yang menyatakan bahwa 68 persen rakyat di Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan dan kekayaan tanah air hanya dikuasai satu persen penduduk Indonesia atau sekitar 2,5 juta orang.

    Baca juga: Prabowo Sindir Pemimpin Suka Akting dan Pencitraan

    Data tersebut ia rangkum dalam buku yang ditulisnya sendiri, 'Pandangan Strategis Prabowo Subianto. Paradoks Indonesia. Negara Kaya Raya, Tetapi Masih Nampak Rakyat Hidup Miskin'.

    Menurut Prabowo selama ini banyak elite yang gemar akting dan melakukan pencitraan. Mereka bahkan senang berkomentar normatif, seolah selalu bekerja dengan baik.

    Baca juga: Gerindra Jelaskan Maksud Prabowo Anjurkan Terima Suap

    "Komentarnya selalu normatif. Harga pokok stabil, perekonomian membaik, inflasi terkendali. Musim Lebaran, mudik lancar. Pemimpin kita di banyak level pandai bicara, tapi pandainya pandai akting, inti masalah tidak menyentuh," ujar Prabowo.

    Prabowo juga mengatakan sering dihujat karena berkata apa adanya soal negara Indonesia. Ia mengatakan sering dimusuhi banyak pihak karena membuka kondisi yang sedang terjadi, padahal ia berniat ingin memberi kritik yang membangun. Ia mencontohkan, mengenai kondisi pertahanan di negara yang harus diperkuat.

    "Saya bilang TNI lemah, dikatakan merendahkan mereka. Gerindra adalah satu-satunya partai yang menolak APBN karena kami meminta anggaran untuk TNI meningkat. Menhan mengatakan, kalau Indonesia perang, hanya bisa bertahan selama 3 hari. Pertahanan beras hanya bisa 18 hari, BBM bertahan 21 hari. Makanya bener saya latihan naik kuda," seloroh Prabowo.

    Baca juga: Gerindra: Penggalangan Dana Tak Hanya untuk Pilkada

    Dalam negara demokrasi, kata Prabowo, pergantian pemimpin adalah hal yang biasa. Hanya saja, banyak yang menolak dilengserkan sehingga menghalalkan bermacam cara untuk tetap bertahan.

    "Kita komit pada Undang-undang Dasar 45. Kita akan memimpin kalau kita diberi izin oleh rakyat. Demokrasi, salah satunya adalah jalan melakukan demokrasi politik damai. Mengganti pemimpin adalah hal biasa. Tapi yang sudah memimpin tidak mau diganti. Semestinya serahkan pada rakyat," ujar Prabowo.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.