Mewujudkan Impian Pendidikan dalam Keterbatasan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berbekal pengalaman menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kemampuan mengajar ilmuagama Islam, pada tahun 2002 Marwan meneguhkan tekadnya untuk mengabdikan diri pada duniapendidikan di kampung halamannya, di Aikperapa, Lombok Timur, NTB. (Foto: TEMPO/Denis Arbi)

    Berbekal pengalaman menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kemampuan mengajar ilmuagama Islam, pada tahun 2002 Marwan meneguhkan tekadnya untuk mengabdikan diri pada duniapendidikan di kampung halamannya, di Aikperapa, Lombok Timur, NTB. (Foto: TEMPO/Denis Arbi)

    Menjadi seorang pemuda yang hanya lulus sekolah setingkat Sekolah Dasar bukanlah hal yang mudah. Hidup yang dijalani harus puas dengan segala keterbatasan. Perkembangan jaman yang pesat dan kebutuhan sumber daya manusia yang semakin maju justru menghimpit gerakan semakin tidak leluasa. Bukannya berpikir untuk merubah nasib sendiri, Marwan Hakim, pemuda asal Aikperapa, Lombok Timur justru memperjuangkan pendidikan generasi muda di kampungnya.

    Berbekal pengalaman menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kemampuan mengajar ilmu agama Islam, pada tahun 2002 Marwan meneguhkan tekadnya untuk mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Ia merasa tergerak untuk menyemangati anak-anak di kampungnya mendapatkan pendidikan layak. Walaupun di kampung tersebut dahulu hanya memiliki satu sekolah dasar, namun Marwan percaya bahwa dengan kemauan yang kuat bukanlah mustahil Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas dapat segera dibangun.

    Marwan bersama beberapa temannya berjuang untuk memajukan pendidikan anak-anak dengan mendirikan sekolah mulai TK hingga SMA. Walaupun menemui berbagai rintangan dan keraguan dari masyarakat sekitar, akhirnya pada tahun 2004 sekolah yang didirikan Marwan sudah 200 anak lulusan SMP dan 50 anak lulusan SMA. Bahkan, saat ini sudah ada satu orang asal Desa Aikperapa yang berhasil meraih gelar Sarjana.

    Pada awalnya, sekolah yang didirikan Marwan hanya mengandalkan donasi dari berbagai pihak saja. Namun, setelah Marwan Hakim berhasil menjadi salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indonesia Awards 2013, sekolah tersebut mulai diarahkan untuk menjadi sekolah mandiri. Berbagai usaha, seperti peternakan dan perkebunan Gaharu pun mulai dikelola dan hasilnya kelak digunakan sebagai sumber pembiayaan operasional sekolah.

    Marwan Hakim sudah menginspirasi banyak pihak dengan kegigihannya pada dunia pendidikan. Keterbatasannya sebagai pemuda yang hanya lulus SD justru membawanya melakukan banyak hal yang jarang dilakukan para lulusan perguruan tinggi. Karya Marwan adalah salah satu oasis di tengah keringnya pendidikan Aikperapa, Lombok Timur. Bukan hal yang tidak mungkin, suatu hari “Marwan Hakim” lainnya akan muncul dan menjadi mutiara bangsa Indonesia.

    Kisah menarik lain dari para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dapat Anda ikuti di website www.satu-indonesia.com .

    BAYU SATITO / TIM INFO TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.