Komnas HAM Punya Temuan Penting Penyerangan Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik senior KPK, Novel Baswedan menjawab pertanyaan awak media saat mendatangi gedung KPK, Jakarta, 28 Mei 2018. Dalam kesempatan itu, Novel juga menyatakan bahwa kondisi mata kirinya semakin membaik dan diharapkan dapat menjadi tumpuan untuk penglihatannya. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik senior KPK, Novel Baswedan menjawab pertanyaan awak media saat mendatangi gedung KPK, Jakarta, 28 Mei 2018. Dalam kesempatan itu, Novel juga menyatakan bahwa kondisi mata kirinya semakin membaik dan diharapkan dapat menjadi tumpuan untuk penglihatannya. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Pemantauan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM menyebut memiliki temuan penting terkait dengan kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. “Bagi tim Komnas HAM, semua temuan penting, ada beberapa hal, tapi belum bisa kami bagikan dulu,” kata Ketua Tim Pemantauan Komnas HAM Sandrayati Moniaga saat dihubungi, Selasa, 19 Mei 2018.

    Komnas HAM membentuk tim untuk memantau proses penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel sejak 8 Maret 2018. Komnas HAM membentuk tim ini karena menilai penyelidikan kasus tersebut di kepolisian terlalu lama.

    Tim bertugas memantau proses penyelidikan polisi, menemukan faktor penghambat, dan memberikan rekomendasi agar kasus ini bisa cepat selesai. Rekomendasi akan diberikan kepada beberapa pihak, seperti Presiden Joko Widodo dan kepolisian.

    Baca: Menolak Lupa, Mengingat Lagi Ciri Penyerang Novel Baswedan

    Sandra mengatakan, saat ini, tim belum selesai melakukan pemantauan. Tim, kata dia, masih perlu memverifikasi sejumlah temuan ke beberapa narasumber. Beberapa sumber menyebutkan Komnas HAM bahkan sudah memeriksa tetangga Novel, yang melihat terduga pelaku berkeliaran di sekitar rumah penyidik KPK itu beberapa hari sebelum insiden.

    Sandra menargetkan rekomendasi dari tim pemantau akan rampung paling cepat pada awal Agustus 2018. Dia berharap rekomendasi dari tim pemantau dapat mempercepat proses penyelidikan kasus ini. “Kami berharap awal Agustus atau awal September paling lambat,” ujarnya.

    Sebelumnya, dua orang tak dikenal menyiramkan air keras ke Novel pada 11 April 2017. Penyerangan itu terjadi sesuai Novel melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ihsan, yang berjarak sekitar tujuh rumah dari kediamannya.

    Baca juga: Pelaku Penyiraman Kembali Awasi Rumah Novel Baswedan.

    Akibat siraman cairan korosif itu, mata kiri Novel mengalami kerusakan sampai 95 persen. Dia harus menjalani sejumlah operasi di Singapura untuk memulihkan matanya. Lebih dari setahun peristiwa itu berlalu, polisi belum mampu mengungkap pelakunya.

    Dalam beberapa kesempatan wawancara, Novel mengaku ragu dengan kinerja kepolisian dalam mengusut penyerangan tersebut. Ia bahkan curiga ada orang kuat yang sengaja menghalang-halangi penyelidikan perkara ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.