Ketua Umum Golkar Sebut Timing Yahya Staquf ke Israel Tak Pas

Reporter:
Editor:

Wahyu Dhyatmika

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang demonstran Palestina, Haitham Abu Sabla (23) yang terluka saat tabung gas air mata yang dilepaskan oleh pasukan Israel bersarang di wajahnya, menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jalur Gaza selatan, 8 Juni 2018. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    Seorang demonstran Palestina, Haitham Abu Sabla (23) yang terluka saat tabung gas air mata yang dilepaskan oleh pasukan Israel bersarang di wajahnya, menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jalur Gaza selatan, 8 Juni 2018. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menilai  kunjungan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf ke Israel terjadi pada  waktu yang tak tepat. Menteri Perindustrian ini tidak berkomentar banyak soal substansi kunjungan Yahya Staquf. 

    "Timing-nya tak pas," ujar Airlangga di rumah dinasnya di jalan Widya Chandra, Jakarta, Jumat, 15 Juni 2018. Saat ini, kata Airlangga, pemerintah Indonesia sedang getol-getolnya meningkatkan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. "Saat sekarang kan kita mengupayakan untuk mensupport Palestina," katanya. 

    BACA JUGA: DPR Kritik Kunjungan Yahya Staquf ke Israel

    Dukungan itu diwujudkan pemerintah Indonesia dengan menolak permintaan visa kunjungan beberapa warga Israel ke Indonesia dan memprotes pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke kota suci Yerussalem. Akibat sikap keras itu, Pemerintah Israel sempat mengancam akan membalas dengan menolak permintaan visa warga Indonesia ke sana.

    Padahal, setiap tahun ada puluhan ribu warga Indonesia yang berkunjung ke Yerussalem setiap tahun untuk ziarah ke kota suci umat Kristen dan Islam itu. 

    BACA JUGA: Ini Profil Lembaga Yang Mengundang Yahya Staquf ke Israel

    Pada 10 Juni 2018 lalu, Yahya Cholil Staquf yang juga Khatib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengisi kuliah umum yang diadakan oleh American Jewish Committee (AJC). Dalam video yang diunggah AJC, Yahya menyebutkan dia hanya meneruskan nilai-nilai yang digaungkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terutama soal  toleransi beragama.

    Namun, kunjungan Yahya ke Israel itu menuai kontroversi. Pasalnya, kunjungan seorang pejabat tinggi di lingkaran Istana Kepresidenan bisa diinterpretasikan  sebagai dukungan Indonesia pada keberadaan Israel. Sampai saat ini, Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Indonesia.  


    BACA JUGA: Ini Isi Pidato Yahya Staquf di Israel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.