Kamis, 20 September 2018

Kata Pengamat Timur Tengah Soal Lembaga Pengundang Yahya Staquf

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan juru bicara (Jubir) Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yahya Cholil Staquf dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Kamis 31 Mei 2018. TEMPO/Subekti.

    Mantan juru bicara (Jubir) Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yahya Cholil Staquf dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Kamis 31 Mei 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan The Israel Council on Foreign Relations (ICFR), organisasi yang mengundang anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Staquh untuk menyampaikan kuliah umum di Israel, adalah organisasi independen yang bertujuan mendukung eksistensi Israel.

    “Mereka kerap mempromosikan isu perdamaian di dunia internasional. Tapi, ujungnya, tujuan utama mereka mendukung keberadaan Israel di dunia internasional,” kata Yon saat dihubungi, Rabu, 13 Juni 2018.

    BACA: Istana dan PBNU Sebut Yahya Cholil ke Israel Sebagai Pribadi

    Pada 10 Juni lalu, Yahya Cholil Staquf yang juga Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengisi kuliah umum ICFR oleh American Jewish Committee (AJC). Dalam video yang diunggah AJC, Yahya menyebutkan nilai-nilai yang digaungkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terutama toleransi beragama.

    Menanggapi kuliah umum Yahya Staquf itu, lewat akun Twitter-nya, Fadli Zon mencuit, “Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini memalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. #2019GantiPresiden”.

    Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Mohammad Nuruzzaman geram dan menganggap pernyataan Fadli Zon itu menghina kiai. Nuruzzaman pun langsung menyatakan mundur dari jabatannya sebagai di Partai Gerindra.

    BACA: Wasekjen Gerindra Tuding Fadli Zon Hina Yahya Staquf

    Menurut Yon, meskipun disebut sebagai organisasi independen, ICFR didirikan oleh mantan wakil direktur dinas rahasia Israel Mossad, David Kimche, pada 1989. ICFR melaksanakan tugas eksternal Mossad, yakni menciptakan situasi politik yang menguntungkan Israel.

    Yon mengatakan ICFR merupakan alat soft diplomacy Israel. Tujuannya mendapatkan simpati publik di tengah arus global yang mengecam kependudukan Israel di Palestina. “Ini untuk mereduksi resistensi dan pemberitaan kurang menguntungkan yang selama ini diterima Israel," ujarnya.

    ICFR memiliki berbagai kegiatan, seperti seminar, dialog, dan kuliah umum. Mereka juga membuat sarana publikasi, yakni Israel Journal of Foreign Affairs yang terbit tiga tahun sekali. Publikasi ini berisi tulisan tentang hubungan antara Israel dengan dunia internasional.

    BACA: Yahya Staquf ke Israel, Menlu: Indonesia Tetap Dukung Palestina


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.